Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK tradisi kearifan lokal di daerah di Indonesia, yang hampir punah atau hilang. Misalnya, tradisi Tumplek Ponjen dalam pernikahan masyarakat di Pulau Jawa, terutama di Pantura. Sebuah desa di Brebes, Jawa Tengah, masih ada yang mempertahankan tradisi tumplek ponjen.
Sebuah desa di Pantura Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang masih mempertahankan tradisi Tumplek Ponjen dalam acara pernikahan, adalah masyarakat Pedukuhan Dukuhbandar, Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, pada Selasa (31/3/2026).
Sebelum tradisi Tumplek Ponjen berlangsung, acara dimulai dengan sarahan, yakni hantaran aneka makanan dan juga barang-barang dari pihak keluarga pengantin pria ke rumah pihak keluarga pengantin wanita.
Hantaran aneka makanan dan barang-barang ini, dibawa beramai-ramai oleh pihak pengantin wanita, yang jumlahnya mencapai hampir seratusan orang. Tidak hanya aneka makanan dan barang-barang tradisional, tapi juga ada barang berupa perhiasan dan alat-alat kecantikan serta pernak-pernik kebutuhan pengantin wanita.
Usai sarahan, acara tradisi Tumplek Ponjen dimulai. Yakni, pemberian uang tunai oleh kedua belah pihak, yakni baik keluarga pengantin lelaki maupun wanita. Jumlah uang yang diberikan bervariasi tergantung kemampuan si pemberi. Pemberian uang tunai juga ada yang dibentuk menyerupai kalung, dan diberikan atau dikalungkan kepada kedua mempelai. Saat memberikan uang, ada yang menyebutnya untuk pergi haji, untuk membeli tanah untuk mendirikan rumah dan lain sebagainya.
Perngantin lelaki, yakni anak dari pasangan Wiryo Zuhdi dan Juriyah, Wawan Setiawan Kautsar, menuturkan, awal bertemu dengan pasangannya, yakni Rizka Nur Kusumah, anak pasangan Muhammad Yusuf Hadis dan Warni Rasilan, sebenarnya sudah lama karena masih sekampung atau desa.
“Finalnya ketika menghadiri, reunian saat AD di kampung,” ujar Wawan.
Wawan menyebut uang hasi Tumplek Ponjen yang diperolehnya sebagian akan digunakan membantu kaum miskin. “Sebagiannya lagi nanti untuk membangun rumah sakit atau klinik,” ucap Wawan yang seorang dokter.
Disinggung soal berapa ingin mempunyai anak, Wawan menyebut tergantung sang istreri. Dan sang isteri menjawab, “tiga atau paling banyak lima orang anak”.
Budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik, menyampaikan, tradisi Tumplek Ponjen (atau Tumplak Punjen) adalah adat pernikahan Jawa khususnya kawasan Pantura, sebagai wujud syukur orang tua yang telah berhasil menikahkan seluruh anaknya.
“Terutama saat menikahkan anak terakhir atau bungsu. Prosesi ini melambangkan selesainya kewajiban orang tua dan harapan agar anak-anak hidup makmur,” ujar Atmo Tan Sidik
Acara tradisi Tumplek Ponjen dalam pernikahan ini, diakhiri dengan berjoget ramai-ramai sejumlah keluarga mempelai pihak pengantin lelaki, dengan membawa aneka perabotan dapur. Dan yang paling akhir, pengantin wanita yang menduduki kedo, seperti ayam babon mengeram. Maknanya, agar nantinya bisa mempunyai banyak anak dan barokah. (H-2)
Mengenal budaya 'Hafawah' Arab Saudi. Mengapa melayani tamu adalah seni dari hati bagi masyarakatnya?
MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan, kearifan lokal harus dimanfaatkan dalam upaya menjaga kelestarian hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Di tengah arus globalisasi dan penetrasi teknologi digital, muncul kekhawatiran baru, apakah anak-anak Indonesia masih tumbuh dengan akar budaya, alam, dan kearifan lokalnya sendiri?
Kemenekraf/Bekraf melalui Direktorat Film, Animasi, dan Video, Deputi Bidang Kreativitas Media, menyelenggarakan kegiatan Bicara Film: Merayakan Kearifan Lokal Lewat Sinema
Toba Creative Festival tersebut bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved