Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Momen Idul Fitri Bisa Perkuat Rekonsiliasi Sosial dan Kebangsaan

Naviandri
18/3/2026 21:28
Momen Idul Fitri Bisa Perkuat Rekonsiliasi Sosial dan Kebangsaan
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjahja Nugraha(MI/Naviandri)

DI tengah dinamika politik domestik dan ketegangan geopolitik dunia, Hari Raya Idul Fitri menjadi kesempatan penting untuk memperkuat rekonsiliasi sosial dan kebangsaan.  Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan spiritual setelah menjalankan ibadah Ramadan.  

Lebih dari itu, momen ini memiliki makna mendalam sebagai waktu untuk membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan. Tradisi saling memaafkan yang melekat dalam Idulfitri seharusnya dimaknai lebih dalam, bukan sekadar formalitas atau salaman fisik.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjahja Nugraha kemarin mengingatkan, bahwa makna Idul Fitri sejatinya adalah kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki relasi antar manusia, termasuk dalam kehidupan berbangsa. Tradisi saling memaafkan yang terjadi setiap Idulfitri seharusnya tidak berhenti pada simbol atau kebiasaan sosial semata.

“Maaf dalam Idul Fitri bukan sekadar berjabat tangan atau mengucapkan kata-kata formal. Hakikatnya adalah pembersihan hati, keikhlasan untuk menghapus dendam, serta membuka ruang rekonsiliasi yang tulus,” tuturnya.

Menurut Achmad nilai memaafkan sendiri merupakan ajaran penting dalam Islam. Dalam Alquran, Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. 

Sebagaimana disebutkan dalam Qur'an Surah Ali Imran 3:134: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

"Semangat tersebut sangat relevan dengan kondisi kebangsaan yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, konflik kepentingan, hingga polarisasi di ruang publik," jelasnya.

Dalam konteks itulah Idul Fitri, lanjut Achamd, dapat menjadi “risalah nasional” yang mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk kembali pada nilai persaudaraan, toleransi dan persatuan.

“Idul Fitri adalah pesan moral bagi bangsa. Jika masyarakat mampu mempraktikkan maaf yang tulus, maka kehidupan sosial dan politik kita juga bisa lebih sehat dan damai,” terangnya.

Achmad menambahkan Alquran juga menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan mendamaikan konflik di tengah masyarakat. Hal ini tercermin dalam Alquran Surah Al-Hujurat 49:10:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat," ucapnya 

Achmad menilai, bangsa Indonesia yang majemuk membutuhkan energi moral seperti yang diajarkan dalam Idul Fitri. Tradisi saling memaafkan dapat menjadi fondasi untuk memperkuat kohesi sosial di tengah berbagai perbedaan. Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum refleksi bersama, tidak hanya dalam lingkup keluarga tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Jika Idul Fitri dimaknai secara mendalam, maka ia tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi gerakan moral untuk memperbaiki hubungan sosial dan memperkuat persatuan bangsa,” tutupnya. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik