Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PETANI di Provinsi Aceh sangat resah pada pada musim tanam padi rendengan (musim tanam utama) kali ini. Pasalnya ketersediaan pupuk bersubsidi jenis urea dan NPK Phonska di pasaran sangat langka dan mahal.
Kondisi tanaman padi yang sudah berusia sepekan hingga dua bulan, seharusnya harus mendapat pemupukan memadai, terpaksa gagal terpenuhi. Tidak diketahui secara jelas mengapa bahan atau zat pemicu tumbuh itu langka di tingkat pengecer.
Faisal, petani di Kemukiman Bluek, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, kepada Media Indonesia, Sabtu (7/2) mengatakan, karena krisis pupuk bersubsidi, terpaksa harus memakai pupuk urea dan NPK nonsubsidi. Akibatnya, pemberian pupuk pada tanaman harus dikurangi karena terkendala harga nonsubsidi lebih mahal.
Dikatakan Faisal, bukan saja ketersediaan langka di pasaran, tapi harga pupur subsidi pemerintah itu juga cukup tinggi. Yaitu tidak sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) pemerintah. Misalnya harga pupuk urea subsidi yang seharusnya Rp90.000/zak (ukuran 50 kg), ternyata dijual mencapai Rp120.000/zak hingga Rp130.000/zak. Lalu pupuk NPK Phonska dari harga subsidi pemerintah Rp92.000/zak, tapi di tingkat pengecer mencapai Rp100.000/zak hingga Rp120.000/zak.
"Ketersediaan pupuk subsidi itu cukup langka. Jarang sekali mendapati pupuk tersebut pada pengecer resmi. Kalaupun ada, harganya cukup tinggi, di luar harga subsidi," tutur Faisal.
Kondisi hampir sama juga terjadi di Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Utara. Untuk menutupi kebutuhan pupuk tanaman padi, mereka harus beralih ke pupuk nonsubsidi. Karena harga pupuk nonsubsidi, petani harus mengurangi pemakaian. Lalu menambahkan pupuk organik yang harganya lebih murah.
"Kadang harus mencari pupuk bersubsidi ke tempat lain di luar kecamatan. Di lokasi domisili sendiri tidak ada. Karena mendesak, terpaksa membeli walau harga lebih mahal. Tidak tahu apakah ulah pedagang atau sebab lain," tutur Maimun, warga Kemukiman Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), Profesor Sugianto kepada Media Indonesia, pemerintah harus menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi kepada petani Aceh. Pasalnya itu merupakan kebutuhan dasar setiap musim tanam padi untuk meningkatkan hasil panen.
Krisis ketersediaan pupuk bersubsidi adalah masalah serius bagi petani sawah. Apalagi untuk meningkatkan surplus gabah hasil panen raya. "Aceh baru saja mengalami banjir besar yang meluluhlantakkan 89.582 hektare lahan sawah produktif hancur dan tertimbun lumpur. Untuk menutupi kekurangan produksi itu, harus ada peningkatan panen di sawah yang tersisa," tutur Sugianto, Guru Besar yang juga pakar Ilmu Tanah dari Universitas Negeri terbesar di Aceh itu. (H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved