Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Banjir Surut Pemkab Banjar Fokus Penanganan Pasca Bencana

Denny Susanto
27/1/2026 16:43
Banjir Surut Pemkab Banjar Fokus Penanganan Pasca Bencana
Ilustrasi(Dok Istimewa)

BANJIR di Kabupaten Banjar semakin surut seiring kondisi cuaca panas sepekan terakhir dan seluruh warga pengungsi telah pulang ke rumah masing-masing. Pemkab Banjar kini fokus verifikasi dampak banjir guna penanganan pasca bencana.

Data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjar mencatat per Selasa, 27 Januari 2026 jumlah desa terdampak banjir semakin sedikit tersisa 37 desa pada lima kecamatan dengan ketinggian genanganan air rata-rata kurang 50 centimeter. Demikian juga dengan warga pengungsi kini sudah pulang ke rumah masing-masing dan dapur umum telah ditutup.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, Yudhi Andrea, mengatakan kondisi banjir terus mengalami penurunan seiring cuaca panas sepekan terakhir. "Saat ini, wilayah yang masih terdampak banjir antara lain berada di Kecamatan Sungai Tabuk, Martapura Barat, Martapura Timur, dan Cintapuri Darussalam. Sedangkan pengungsi  juga sudah kembali ke rumah masing-masing," ujarnya.

Dikatakan Yudhi Pemkab Banjar kini fokus pendataan dampak bencana banjir yang berlangsung sejak akhir Desember 2025 dan merendami ratusan desa di wilayah tersebut. Pemkab Banjar tetap menyalurkan bantuan logistik untuk mendukung desa-desa yang masih membuka dapur umum secara mandiri.

"Saat ini memasuki masa transisi tanggap darurat menuju pemulihan," tambahnya. Masa transisi bisa berlangsung hingga tiga bulan dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan. Pasca banjir, masyarakat dihimbau untuk mewaspadai potensi peningkatan kasus penyakit, seperti diare, penyakit kulit, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Pada bagian lain tingginya volume sampah sungai di Kalsel dinilai ikut memicu meluapnya sungai yang menyebabkan banjir saat penghujan. Salah satu daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi prioritas revitalisasi pemerintah pusat dan daerah adalah DAS Martapura. 

Saat ini sungai Martapura menghadapi berbagai permasalahan diantaranya limbah domestik, limbah pertambangan, limbah pertanian dan perkebunan, hilangnya resapan air dan alih fungsi lahan, sanititasi (MCK) dan jamban tepi sungai, sampah, pencemaran logam berat dan maraknya permukiman kumuh di sepanjang DAS. Kondisi ini berpengaru pada terus menurunnya kualitas air Sungai Martapura.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH) Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel, Yuluarini, mengatakan pihaknya telah memiliki program terkait penanganan sampah sungai. Program ini masuk bagian program prioritas dengan melibatkan masyarakat sekitar sungai yang disebut Martapura Asri. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya