Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SENYUM lega terpancar dari wajah-wajah yang tampak kelelahan. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah sekelompok Warga Negara Asing (WNA) asal Filipina akhirnya tiba di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Minggu (25/1).
Di balik senyum syukur itu, tersimpan kisah perjuangan hidup mati selama hampir dua pekan di tengah ganasnya lautan.
Perjalanan yang seharusnya rutin dari Malaysia menuju Filipina berubah menjadi mimpi buruk ketika perahu mereka menabrak batang kayu besar di tengah laut. Lambung kapal bocor.
Hari kedua, kebocoran semakin parah. Perahu tak lagi bisa berlayar dengan baik, dan mereka mulai terombang-ambing tanpa arah.
"Selama 13 hari kami terombang-ambing di perairan. Untuk bertahan hidup, kami hanya mengandalkan air hujan. Jika hujan tidak turun, kami terpaksa meminum air laut," kenang Banjir (60), salah satu korban, dengan suara yang masih bergetar saat ditemui awak media di kantor Imigrasi Palu.
Bayangkan, 13 hari tanpa makanan yang layak, tanpa air bersih yang cukup. Dalam kondisi putus asa, Banjir bahkan nekat berenang ketika melihat tumpukan sampah mengapung di laut berharap menemukan sisa makanan yang bisa dimakan.
“Jika beruntung menemukan sesuatu, anak-anak selalu diprioritaskan untuk makan lebih dulu,” ungkap Banjir.
Lisa, WNA Filipina lainnya, mengaku mereka sudah sering melakukan perjalanan laut serupa.
"Biasanya kami sering bolak-balik dari Malaysia ke Filipina. Baru kali ini kami mengalami kecelakaan besar sampai terdampar sejauh ini," ujarnya dengan nada tak percaya.
Perjalanan mereka memang bukan tanpa tujuan. Lisa menjelaskan bahwa mereka menuju Malaysia untuk bekerja sebagian sebagai nelayan, sebagian lainnya bekerja di restoran.
Kehidupan sebagai pekerja migran yang mencari nafkah di negeri orang, dengan segala risikonya.
Namun kali ini, risiko itu hampir merenggut nyawa mereka semua.
Mengetahui kondisi para WNA yang terdampar di perairan Kabupaten Buol, Kamis (22/1), petugas Inteldakim Kantor Imigrasi Palu segera melakukan penjemputan dan pengawalan untuk memastikan keselamatan mereka serta penanganan lebih lanjut sesuai prosedur keimigrasian.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Muhammad Akmal, menjelaskan bahwa sebelum dipulangkan, para WNA tersebut akan menjalani proses pemeriksaan serta pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
"Setelah proses pemeriksaan dan BAP selesai, pemulangan WNA Filipina akan dilakukan secepatnya oleh pihak Imigrasi melalui jalur darat menuju Manado. Selanjutnya, dari Manado akan ditindaklanjuti oleh Konsulat Filipina di Manado untuk proses pemulangan ke Filipina," jelasnya.
Saat ini, seluruh WNA Filipina tersebut berada dalam penanganan Kantor Imigrasi Palu sambil menunggu proses pemulihan, baik fisik maupun mental dari pengalaman traumatis yang baru saja mereka lalui.
Bagi mereka, daratan Indonesia bukan hanya sekadar tempat terdampar. Ini adalah titik di mana harapan untuk pulang ke rumah kembali menyala, setelah 13 hari menghadapi ketidakpastian di tengah hamparan laut yang tak berujung. (H-2)
Kasi Operasi PLP Tanjunguban, Alfaizul, menjelaskan kebocoran terjadi akibat air laut masuk ke lambung kanan tongkang. Kondisi tersebut membuat kapal miring hingga 50 derajat.
Kapal kargo curah MV Indian Partnership berbendera Inggris pengangkut bauksit mengalami kebocoran saat melintasi perairan Pulau Missol Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Kegiatan itu bertujuan untuk memberikan pemahaman lebih dalam tentang tugas dan fungsi imigrasi, khususnya terkait pelayanan keimigrasian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved