Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Bahasa Bugis merupakan salah satu bahasa daerah terbesar di Indonesia yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang sangat kental. Dituturkan oleh etnis Bugis atau yang menyebut dirinya sebagai To Ugi, bahasa ini tidak hanya mendominasi wilayah Sulawesi Selatan, tetapi juga tersebar luas ke berbagai penjuru Nusantara hingga mancanegara seperti Malaysia dan Singapura akibat budaya merantau (sompe) yang kuat. Memahami bahasa ini bukan sekadar mempelajari alat komunikasi, melainkan juga menyelami filosofi hidup masyarakat Bugis yang menjunjung tinggi harga diri dan kesetiaan.
Secara linguistik, bahasa Bugis termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, tepatnya pada cabang Melayu-Polinesia Barat dan sub-kelompok Sulawesi Selatan. Bahasa ini memiliki kekerabatan yang cukup dekat dengan bahasa Makassar, Mandar, dan Toraja, meskipun memiliki perbedaan fonologi dan kosakata yang signifikan. Dalam perkembangannya, bahasa ini telah menjadi identitas kultural yang kuat bagi masyarakat di kabupaten-kabupaten seperti Bone, Wajo, Soppeng, Sinjai, Barru, Sidrap, Pinrang, hingga sebagian wilayah Pangkep dan Maros.
Keberadaan bahasa ini telah tercatat dalam naskah-naskah kuno yang sangat panjang, salah satunya adalah epos I La Galigo. Karya sastra terpanjang di dunia ini ditulis dalam bahasa Bugis kuno menggunakan aksara Lontara, membuktikan bahwa peradaban literasi masyarakat Bugis telah maju sejak berabad-abad yang lalu.
Salah satu keunikan utama dari bahasa Bugis adalah sistem penulisannya yang disebut Aksara Lontara. Nama 'Lontara' sendiri berasal dari kata 'lontar', karena pada masa lampau, naskah-naskah ditulis di atas daun lontar menggunakan alat tajam. Aksara ini memiliki bentuk yang unik, yang oleh budayawan setempat sering disebut sebagai Sulapa Eppa (segi empat belah ketupat). Konsep ini melambangkan pandangan hidup masyarakat Bugis mengenai empat unsur kejadian manusia: tanah, air, api, dan angin.
Aksara Lontara terdiri dari 23 huruf konsonan dan menggunakan sistem diakritik (tanda baca) untuk mengubah bunyi vokal. Secara tradisional, aksara ini tidak memiliki tanda untuk mematikan huruf (virama), sehingga pembacaan naskah Lontara memerlukan pemahaman konteks yang mendalam agar tidak terjadi salah tafsir.
Meskipun memiliki standar umum, bahasa Bugis memiliki variasi dialek yang cukup beragam tergantung wilayah geografis penuturnya. Beberapa dialek utama yang sering diidentifikasi antara lain:
Bagi Anda yang ingin mulai belajar atau sekadar ingin tahu cara berkomunikasi dasar saat berkunjung ke Sulawesi Selatan, berikut adalah panduan praktis kosakata dan frasa umum dalam bahasa Bugis yang wajib diketahui:
Penting untuk dicatat bahwa penggunaan bahasa Bugis sangat dipengaruhi oleh strata sosial dan nilai Siri' na Pacce (rasa malu dan solidaritas). Penggunaan kata ganti yang salah (misalnya menggunakan 'Iko' kepada orang tua) bisa dianggap sangat tidak sopan dan melukai harga diri. Oleh karena itu, penggunaan kata sandang penghalus seperti partikel '-ki' (misalnya: laoki yang berarti 'silakan pergi' atau 'ayo pergi') sangat dianjurkan untuk menunjukkan rasa hormat.
Melestarikan bahasa Bugis di era modern menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan masih kuatnya penggunaan bahasa ini dalam ritual adat, pernikahan, dan kehidupan sehari-hari di Sulawesi Selatan, bahasa ini tetap menjadi salah satu kekayaan linguistik Indonesia yang paling hidup dan dinamis.
Aksara Lontara adalah sistem tulisan tradisional yang berasal dari Sulawesi Selatan, digunakan oleh suku Bugis dan Makassar sejak abad ke-14.
Pelajari 75 kosakata bahasa Bugis beserta artinya dan contoh kalimat. Cocok untuk pemula yang ingin mahir berbahasa Bugis!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved