Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PULUHAN ton bantuan logistik rupanya tersimpan di gudang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial Kabupaten Bireuen memicu kekhawatiran publik. Di tengah kondisi ribuan penyintas banjir yang masih berjibaku dengan sisa lumpur, bantuan berupa bahan pokok hingga alat kerja justru dibiarkan menumpuk di gudang Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia pada Selasa (13/1/2026), barang-barang yang tertahan bukan hanya beras dan makanan, tetapi juga peralatan penting untuk pemulihan pascabencana seperti cangkul, skrup, dan gerobak dorong.
Kondisi paling memprihatinkan terlihat di Kecamatan Kuta Blang, Peusangan, Peusangan Siblah Krueng, hingga Kecamatan Juli. Rumah-rumah warga masih tertimbun lumpur setebal 50 cm hingga 2 meter. Dua bulan pascabencana (26-27 November 2025), banyak warga terpaksa membiarkan rumah mereka penuh lumpur karena tidak mampu membeli alat pembersih.
“Meskipun sederhana, peralatan kerja itu sekarang dianggap mahal karena kondisi ekonomi warga sedang sangat sulit. Padahal sangat dibutuhkan untuk membersihkan rumah dan pekarangan,” ujar Suryadi, tokoh masyarakat Bireuen.
Suryadi menilai alasan Plt Kepala BPBD Bireuen, Doli Mardian, bahwa stok di lapangan sudah mencukupi sehingga sisa bantuan disimpan untuk stok Ramadhan, tidak dapat diterima.
“Pernyataan itu tidak logis. Logistik seharusnya disalurkan segera, bukan baru akan dibagikan saat Ramadhan. Saat itu rumah warga harus sudah bersih dari lumpur,” tegasnya.
Banyak korban memilih meninggalkan tenda darurat karena kondisi yang tidak manusiawi. Mereka lebih memilih bertahan di sisa rumah yang rusak, menumpang di gedung bekas, atau berbagi satu kamar demi menghindari gigitan nyamuk dan panasnya tenda beratap terpal plastik bekas.
Kekhawatiran lain muncul terkait kelayakan logistik yang disimpan terlalu lama. Beberapa barang siap saji, seperti kue kering, ikan sarden, dan minuman botol, berisiko kadaluarsa.
“Siapa yang bertanggung jawab jika logistik berjamur atau kualitasnya menurun karena gudang tidak steril? Menyimpan untuk stok Ramadhan hanyalah alasan yang dibuat-buat,” tambah Ismail, korban banjir di Kecamatan Kuta Blang.
Sebelumnya, pada Senin (12/1), anggota DPRK Bireuen melakukan inspeksi mendadak (Sidak) dan menemukan puluhan ton logistik masih menumpuk. Publik menuntut agar seluruh bantuan segera disalurkan, karena pemulihan rumah warga merupakan prioritas mendesak. (MR/I-1)
AWAL pekan lalu masyarakat dikagetkan dengan viralnya video tumpukan bantuan logistik untuk masyarakat terdampak bencana di gudang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, Aceh.
INSPEKSI mendadak (sidak) yang dilakukan sejumlah anggota DPRK Bireuen ke gudang logistik Pemerintah Kabupaten Bireuen mengungkap fakta mengejutkan.
WARGA di Kabupaten Bireuen, Aceh, harus menelan pil pahit karena 47 hari sejak bencana banjir bandang pada November 2025 lalu penanganan dampak bencana hingga bantuan belum maksimal.
VIRAL di media sosial video merekam menumpuknya berbagai macam bantuan logistik di sebuah gudang yang diduga gudang milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, Aceh.
Bea Cukai mengerahkan bantuan logistik melalui jalur darat dan laut bagi korban banjir dan longsor di Aceh, termasuk menyediakan titik komunikasi darurat hingga operasi ship-to-ship.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved