Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
KAWASAN Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali menjadi basis riset ilmiah tentang pengaruh musik bagi perkembangan otak, kesehatan dan pola perilaku manusia. Hal ini diawali dengan digelarnya diskusi ilmiah di Kampus UID yang berlokasi di KEK Kura Kura Bali dengan para peneliti dunia terkenal dan peneliti dalam negeri.
Diskusi bertajuk 'Music and Brain: Imaging Imagination - Musical Creativity and The Brain' digelar untuk ketiga kalinya di KEK Kura-Kura Bali pada 9-11 Januari 2026. Acara ini merupakan sinergi antara Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA), Tsinghua University bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Hadir dalam ajang bergengsi tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, mengapresiasi peran KEK Kura-Kura Bali yang telah bertransformasi menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bagi masyarakat luas.
"Terima kasih telah menciptakan ruang yang begitu indah. Ilmuwan, pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat umum dapat bertemu dalam kedudukan yang setara demi bertukar pikiran. Tempat ini, Kura-Kura Bali, bisa saja hanya menjadi hotel biasa, pusat perbelanjaan, atau hal-hal umum lainnya yang sering kita lihat di Bali. Namun, kini juga didedikasikan untuk ilmu pengetahuan." kata Stella Christie.
Wamendikitisaintek Stella Christie menekankan, meskipun kaitan antara musik dan fungsi otak telah menjadi standar riset global, Indonesia tengah bergerak cepat mengejar penguatan studi di bidang tersebut. Dalam pernyataannya, Stella menyebut pemerintah menyediakan dana hibah untuk penelitian pada 2025 yakni sebesar Rp3,2 triliun atau mengalami kenaikan 218% dibandingkan Rp1,4 triliun pada 2024.
"Riset dan pengetahuan tidak berhenti hanya di laboratorium semata, namun terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bangga bahwa punya keberagaman musik, dan bisa belajar dari itu. Kami menciptakan ekosistem dan menyediakan pendanaan yang kuat,’’ ungkapnya.
Sejalan dengan visi tersebut, pakar neurosains musik ternama dunia dari University of California, San Fransisco, Prof. Charles Limb, hadir dan turut memaparkan hasil risetnya. Ia mampu membuktikan bahwa musik memiliki peran lebih dari sekadar hiburan. Eksistensi musik di hampir seluruh budaya manusia menunjukkan adanya fungsi biologis mendasar, terutama dalam aspek kesehatan mental dan hubungan sosial.
Dengan antusiasme tinggi, Prof. Charles Limb menyampaikan optimismenya terhadap sinergi lintas disiplin ini dan berharap Bali bisa menjadi tempat riset berkualitas selanjutnya.
"Semua orang yang peduli akan hal ini, semua yang mencintai musik sekaligus mencintai sains, dan ingin melihat kedua dunia ini bersinergi, kita semua ada di sini, melakukan bagian masing-masing. Kami hanya membutuhkan konteks dan lingkungan yang lebih baik agar hal ini bisa terulang kembali. Jika hal seperti ini tidak terjadi di AS, Washington DC, mungkin ini bisa terjadi di tempat lain di seluruh dunia, bahkan mungkin di Bali," tuturnya.
Selama tiga hari penuh, workshop ini menyajikan pengalaman imersif yang bukan sekadar teori. Para peserta bisa menyaksikan langsung demonstrasi teknologi mutakhir dan pertunjukan musik yang mengeksplorasi keajaiban ritme, melodi, yang mempengaruhi kinerja otak manusia. Hal menarik lainnya, workshop ini juga menyoroti potensi teknologi masa depan dalam menghadirkan musik yang inklusif bagi penderita gangguan pendengaran. Rangkaian kegiatan ditutup dengan public lecture, yang merupakan upaya memperluas akses publik terhadap diskursus ilmiah serta memperkuat keterhubungan antara dunia riset dan masyarakat.
Kura-Kura Bali adalah Kawasan Ekonomi Khusus untuk Pariwisata Berkualitas dan Industri Kreatif, yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia pada April 2023, dan dikelola oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID) sebagai Master Developer. Dengan luas 498 hektare, Kura-Kura Bali adalah destinasi dengan semangat Bali modern yang mengintegrasikan kekayaan warisan budaya yang berakar pada filosofi Tri Hita Karana, yaitu mewujudkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Dengan fokus pada gaya hidup marine, komunitas berbasis pengetahuan, dan pencapaian kualitas hidup secara menyeluruh, Kura-Kura Bali menciptakan peluang untuk era baru pariwisata, industri inovatif, dan well-being yang holistik. Berdasarkan penghormatan terhadap tradisi dan didorong oleh perencanaan yang matang, Kura-Kura Bali berupaya membentuk masa depan di mana budaya dan modernitas hidup berdampingan dan menjadi pemimpin dalam pembangunan yang bertanggung jawab untuk memberikan nilai berkelanjutan bagi komunitas lokal dan global.
Sementara Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) merupakan pusat regional Tsinghua University di Asia Tenggara yang berlokasi di KEK Kura-Kura Bali. TSEA berfokus pada pengembangan kolaborasi internasional di bidang pendidikan, riset, inovasi, dan kebijakan publik, dengan menjembatani pertukaran pengetahuan antara Tiongkok, Asia Tenggara, dan komunitas global. (M-2)
Riset University of Sheffield ungkap Bluesky kini jadi platform lebih efektif dari X untuk berbagi artikel ilmiah, dengan interaksi publik jauh lebih tinggi.
Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (Denas KEK) dan Dewan Kawasan KEK Provinsi Bali menginstruksikan PT Bali Turtle Island Development (BTID) mempercepat pembangunan KEK Kura Kura Bali.
PERMINTAAN warga Pulau Serangan untuk membongkar pagar laut pelampung yang dipasang oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID) yang menaungi Kawasan Ekonomi khusus (KEK) Kura Kura Bali akhirnya dipenuhi.
PENGEMBANG Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali yang terletak di Pulau Serangan, membantah telah melarang nelayan melaut di sekitar pulau tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved