Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
BANJIR susulan masih berpotensi melanda sejumlah wilayah terdampak bencana di Sumatra. Menjawab keresahan masyarakat akibat bencana yang berulang, tim Universitas Gadjah Mada (UGM) memasang Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) Banjir di wilayah tersebut.
Program ini diketuai oleh dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Dr. Sc. Adhy Kurniawan, S.T., bekerja sama dengan Pusat Studi Energi (PSE UGM) dan Universitas Teuku Umar. Kegiatan ini didukung melalui hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisainstek) dalam skema Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana.
“Pemilihan lokasi pemasangan EWS didasarkan pada kejadian banjir susulan akhir 2025 di Desa Lampahan Timur,” ujar Adhy dalam siaran pers, Jumat (9/1).
Sistem EWS yang dipasang dirancang mandiri energi menggunakan panel surya. Perangkat cerdas ini dilengkapi dengan:
Proses menuju lokasi pemasangan tidak mudah. Sebanyak 31 paket kargo peralatan dikirim secara bertahap dari Yogyakarta ke Aceh. Perjalanan darat menuju Kabupaten Bener Meriah pun penuh tantangan.
“Dari Banda Aceh ke Bireuen saja bisa lebih dari enam jam, lalu dilanjutkan ke Bener Meriah sekitar enam jam lagi. Akses jalan dan kondisi cuaca memang cukup berat,” kata Adhy.
Setelah seluruh peralatan tiba dan dirakit, pemasangan EWS dilakukan pada 2 Januari 2026 di Desa Lampahan Timur, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, setelah melalui koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat.
Pemasangan di Bener Meriah merupakan titik ketiga tim UGM di Aceh, setelah sebelumnya memasang EWS di Pulau Simeulue (2024) dan Meulaboh (2025). Adhy menekankan pengelolaan alat kini diserahkan kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
“Alat ini kami serahterimakan kepada masyarakat. Prinsip sistem peringatan dini adalah berfungsi sebelum bencana terjadi, sehingga saat sirine berbunyi, warga sudah memahami bahwa itu tanda muka air naik dan harus bersiap mengamankan barang-barang penting,” tambahnya.
Adhy berharap kontribusi UGM ini dapat dirawat dan difungsikan dengan baik sehingga mampu meminimalisasi risiko dampak banjir di masa depan. (AT/I-1)
Untuk update terbarunya, di hulu Sungai Cileungsi pada pukul 19.20 WIB TMA berada diketinggian 410 sentimeter yang memiliki batas normalnya 100 sentimeter.
BMKG mengeluarkan peringatan dini status "Siaga" untuk wilayah pantura Jawa Tengah. Status ini merupakan level tertinggi yang berlaku mulai 21 hingga 31 Januari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved