Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Sekolah Unggulan di tengah Perkebunan Sawit

Surya Sriyanti
08/1/2026 21:46
Sekolah Unggulan di tengah Perkebunan Sawit
Siswa siswi tengah belajar di Sekolah Bina Bangsa, Kalimantan Tengah.(Dok.Wilmar)

DERETAN bangunan megah berdiri di kanan-kiri jalan. Jika di perkotaan, ini akan menjadi pemandangan biasa. Tetapi bangunan tersebut berada di tengah perkebunan sawit, sehingga kontras dengan lanskap sekitarnya.

Apalagi jika masuk ke dalam. Bangunan fisik dan fasilitas tak ubahnya seperti sekolah unggulan di Jakarta dan sekitarnya. Sekolah tersebut bernama Bina Bangsa 02 yang berada di wilayah PT Karunia Kencana Permaisejati, Wilmar Group, di Desa Kenyala, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng). Pengelolaannya dilakukan oleh Yayasan Bina Bangsa di bawah naungan Wilmar Central Kalimantan Project.

Wilmar dikenal sebagai perusahaan agribisnis. Lantas apa yang mendorong perusahaan sangat peduli terhadap pendidikan? Koordinator Yayasan Bina Bangsa Siti Wahyuni menjelaskan, pendidikan adalah satu komitmen perusahaan untuk menyiapkan pondasi bagi generasi di masa depan. Semua anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan.

“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa sehingga harus disiapkan sebaik mungkin,” kata Wahyuni beberapa waktu lalu.

Saat ini, Yayasan Bina Bangsa mengelola 20 sekolah di Kalteng, yaitu 8 Taman Kanak-Kanak (TK), 6 Sekolah Dasar (SD), 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 3 Sekolah Menengah Atas (SMA). Sedangkan total jumlah siswa mencapai 6.004 anak dan 289 guru. Sekolah tersebut dioperasikan di tiga lokasi yang berbeda. “Sekolah ini konsepnya free. Siswa hanya membayar untuk seragam," ujarnya.

Wahyuni mengatakan, selain anak karyawan, Sekolah Bina Bangsa juga memberikan akses bagi masyarakat untuk bersekolah. Saat ini ada 380 anak desa binaan yang bersekolah di Bina Bangsa. 

Salah satu upaya menyiapkan generasi yang baik adalah memupuk minat dan bakat siswa yang dilakukan melalui berbagai pelajaran seni tari, musik, berkebun, drum band, dan teknologi informasi. Hal itulah yang mendorong siswa menorehkan prestasi baik di tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.

Wahyuni menambahkan, karena prestasinya, sekolah Bina Bangsa telah ditetapkan sebagai sekolah penggerak, yang merupakan program pemerintah untuk mengakselerasi sekolah untuk bergerak satu hingga dua tahap agar lebih maju. “Program kami diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dalam menyiapkan generasi unggul,” pungks Wahyuni. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya