Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
HUJAN dengan intensitas tinggi menjadi pemicu fenomena tanah ambles di Kecamatan Banjarejo dan Tunjungan, Kabupaten Blora, diminta warga di daerah rawan untuk waspada bencana tersebut saat terjadi cuaca ekstrem.
Pemantauan Media Indonesia Senin (5/1) hingga saat ini warga di sejumlah desa di dua kecamatan yakni Banjarejo dan Tunjungan, Kabupaten Blora masih khawatir terjadinya bencana tanah ambles yang hingga kini masih berlangsung, meskipun belum berniat relokasi ataupun mengungsi namun mereka mengaku sukur tidur.
Bencana tanah ambles di Kabupaten Blora hingga kini masih berlangsung dengan rata-rata 2 centimeter, bahkan di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan terjadi ambles 15-30 centimeter dengan rekahan sepanjang 100 meter mengakibat sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah.
Demikian juga di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo terjadi penurunan tanah 50 centimeter memanjang hingga 200 meter mengakibatkan 3 rumah warga mengalami kerusakan. "Setiap hari terjadi tanah ambles dan terus meluas," kata Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Blora Agung Triyono .
Selain memberikan imbauan kepada warga untuk waspada bencana tanah ambles tersebut, menurut Agung Triyono, BPBD Blora juga telah menurunkan petugas untuk terus memantau kondisi di dua kecamatan tersebut, terutama saat terjadi cuaca ekstrem yakni hujan lebat disertai angin kencang dan sambaran petir.
Hingga saat ini, lanjut Agung Triyono, pergerakan tanah masih berlangsung dengan penurunan sekitar dua sentimeter per hari, sehingga setiap terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang, warga diminta untuk waspada karena akan mempercepat terjadinya tanah ambles di daerah rawan tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan di Blora Hadi Susanto mengungkapkan berdasarkan penelitian dilakukan, wilayah terdampak tanah ambles tersebut didominasi tanah aluvial yang berada di sekitar daerah aliran sungai (DAS), karena karakter tanah memang mudah jenuh air saat diguyur hujan deras.
“Tanah aluvial di sekitar DAS mudah jenuh air, yakni ketika berlangsung hujan deras, air masuk ke rekahan tanah hingga menambah beban dan akhirnya memicu amblesan atau pergerakan tanah," ujar Hadi Susanto.
Secara geologi, demikian Hadi Susanto, tidak ditemukan sesar aktif di wilayah terdampak, tetapi kejadian serupa muncul di kecamatan yang berada di sekitar aliran sungai dan cenderung meningkat pada musim hujan dibandingkan musim kemarau. "Pengeboran air tanah dampaknya tidak signifikan." Imbuhnya .
Hingga saat ini, lanjut Hadi Susanto, tingkat pemanfaatan air tanah di Kabupaten Blora masih tergolong kecil, meskipun pemetaan detail potensi pergerakan tanah di daerah ujung timur Jawa Tengah belum tersedia, sehingga dibuka peluang kajian lanjutan apabila Pemerintah Kabupaten Blora mengajukan permohonan resmi.
"Kedepan akan dikoordinasikan lintas sektor bersama seperti Dinas PUPR, Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana," tuturnya. (H-2)
Fenonema tanah amblas tersebut berada di pinggir jalan lintas penghubung Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.
Sinkhole adalah lubang amblas akibat runtuhnya tanah di atas rongga bawah permukaan. Kenali penyebab, tanda awal, bahaya, dan mitigasinya + contoh kasus Limapuluh Kota 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved