Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kecelakaan Bus di Semarang Membuat Suratmo Kehilangan Istri dan Tiga Saudara

Akhmad Safuan
22/12/2025 14:27
Kecelakaan Bus di Semarang Membuat Suratmo Kehilangan Istri dan Tiga Saudara
Suratmo (jaket hitam) dan anak gadisnya Lutfi (jaket abu-abu) saat mencocokan identitas ke petugas .(MI/Akhmad Safuan)

HUJAN tangis pecah di ruang jenazah RSUP Dr Kariadi Semarang Senin (22/12) ketika seorang gadis Lufi ditemani sang ayah Suratmo datang untuk memastikan korban tewas dalam kecelakaan bus Cahaya Trans dengan nomor polisi B 7201 IV di Simpang Susun Exit Tol Krapyak, Kota Semarang, Senin (22/12) dini hari.

Cuaca Kota Semarang terlihat mendung jelang siang (22/12). Kabar kecelakaan tunggal bus menabrak pembatas jalan dan terguling di Simpang Susun Exit Tol Krapyak, Kota Semarang, Senin (22/12) dini hari hingga menewaskan 16 penumpang menjadi berita menggemparkan di tengah berlangsungnya arus mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Di lokasi kejadian, puluhan petugas gabungan tampak sibuk sejak peristiwa itu terjadi.  Hingga siang puluhan tim medis di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang juga disibukkan mengobati 18 penumpang yang mengalami luka serius akibat kecelakaan bus dari Jakarta tujuan Yogyakarta tersebut.

Belasan korban meninggal masih disemayamkan di kamar jenazah RSUP Dr Kariadi Semarang. Sejumlah petugas juga terus mendata korban meninggal dunia dan melayani warga yang datang untuk mengonfirmasi ada tidaknya anggota keluarga yang ikut menjadi korban.

Seorang pria dewasa Suratmo dan anak gadisnya Lufi terlihat duduk di kursi di depan kamar jenazah. Air mata mereka tumpah dan tangis keduanya pecah seketika ketika dipastikan empat anggota keluarga mereka meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut yakni Ngatiyem (istri Suratmo dan juga ibu Lufi) serta tiga saudara lainnya  Anis Munandar, Srihono dan Sugimo.

"Sejak subuh saya dan anak menunggu kedatangan istri dan keluarga lain, tapi tidak kunjung tiba hingga baru jelang siang mendapatkan kabar musibah ini," kata  Suratmo, warga Dukuh Metuk, Kelurahan Metuk, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.

Dengan kondisi tidak menentu, menurut Suratmo, akhirnya datang ke Semarang dan langsung mencari informasi ke rumah sakit, setelah mencocokkan identitas dan memastikan ciri-ciri korban akhirnya dapat terungkap kebenaran bahwa istrinya bersama tiga anggota keluarga lainnya meninggal dunia.

“Istri saya dan saudara berangkat dari Karawang mau pulang ke Boyolali setelah nengok cucu yang baru 3 bulan lahir. Saya tidak menyangka kepulangannya terjadi musibah ini," ujar Suratmo.

Meskipun dengan mata berkaca-kaca dan berusaha tabah menghadapi musibah itu, Suratmo terlihat lesu sebuah kursi. Namun putrinya, Lufi, tidak lagi dapat menahan kesedihannya. Air matanya mengalir tumpah dan suara tangis sesenggukan terdengar cukup keras, bahkan terlihat lunglai dalam pelukan sang ayah yang seakan tidak mampu menahan beban.

Sesekali perempuan muda berhijab dan berjaket abu-abu itu, terlihat mengusap air mata yang terus keluar membanjiri pipinya. "Saya tidak menyangka, pertemuan terakhir dengan ibu ketika melepas kepergian ke Kerawang beberapa waktu lalu," ujarnya lirih. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik