Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Mendorong Kemandirian Petani Nilam Minahasa Lewat Teknologi

Basuki Eka Purnama
18/12/2025 19:52
Mendorong Kemandirian Petani Nilam Minahasa Lewat Teknologi
Tim Program Penerapan Produk Teknologi dan Inovasi (PTTI) 2025 dari Universitas Negeri Manado (Unima)(MI/HO)

TANAMAN nilam merupakan komoditas strategis penghasil minyak atsiri yang menjadi bahan baku utama industri parfum, kosmetik, hingga farmasi. Namun, potensi besar ini kerap terhambat oleh keterbatasan teknik budidaya dan pengolahan di tingkat petani lokal.

Menjawab tantangan tersebut, tim Program Penerapan Produk Teknologi dan Inovasi (PTTI) 2025 dari Universitas Negeri Manado (Unima) hadir di Kabupaten Minahasa

Program yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani melalui pendekatan sains dan teknologi.

Memutus Masalah dari Hulu ke Hilir

Sejak dimulai pada November lalu, program ini mendampingi 31 anggota dari Kelompok Tani Makaria dan Kelompok Tani Mapalus. Fokus utamanya adalah memperbaiki sistem produksi yang selama ini masih bersifat tradisional dan rentan kegagalan.

Selama ini, Kelompok Tani Makaria menghadapi tingkat kematian bibit yang sangat tinggi, mencapai 35%–45%. Sementara itu, Kelompok Tani Mapalus sering mengalami penurunan kualitas bahan baku hingga 30% akibat kontaminasi jamur saat proses pengeringan daun di atas tanah. Masalah semakin pelik karena petani belum memiliki alat penyulingan mandiri, sehingga biaya produksi membengkak.

Solusi Teknologi Tepat Guna

Untuk mengatasi persoalan tersebut, PTTI 2025 memperkenalkan serangkaian inovasi teknologi, di antaranya:

  • Pupuk Organik MOU-AJ1: Inovasi pupuk berbahan limbah ternak, limbah padi, dan cocofit. Sebanyak 5,1 ton pupuk telah diproduksi untuk mengoptimalkan media pembibitan.
  • Instalasi Solar Dryer: Pembangunan fasilitas pengeringan seluas 144 meter persegi untuk memastikan daun nilam kering sempurna tanpa menyentuh tanah, sehingga terhindar dari jamur.
  • Standardisasi Budidaya: Penerapan sanitasi dan teknik sungkup yang terbukti efektif menekan angka kematian bibit.

Selain aspek teknis, petani juga dibekali kemampuan manajerial, terutama dalam hal pencatatan keuangan dan analisis produksi.

Mendorong Perubahan Pola Pikir

Ketua Tim Program PTTI 2025, Prof. Dr. Arrijani, M.Si., menekankan bahwa keberhasilan program ini diukur dari kemandirian petani dalam jangka panjang.

“Kami tidak hanya memberikan alat, tetapi mendorong perubahan cara berpikir dan bekerja petani agar mampu memproduksi minyak nilam berstandar industri secara mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ke depan, program ini akan berlanjut pada tahap perawatan berbasis Good Agricultural Practices (GAP) serta pelatihan operasional penyulingan. 

Prof. Arrijani juga menyampaikan apresiasinya kepada DPPM Kemendiktisaintek atas dukungan pendanaan yang memungkinkan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis inovasi. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya