Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kronologi Penembakan 5 Petani di Bengkulu Selatan terkait Konflik Lahan

Ficky Ramadhan
12/12/2025 15:54
Kronologi Penembakan 5 Petani di Bengkulu Selatan terkait Konflik Lahan
Kronologi Penembakan 5 Petani di Bengkulu Selatan(Freepik)

KONFLIK agraria antara Petani Pino Raya dan perusahaan perkebunan PT Agro Bengkulu Selatan kembali memuncak pada 24 November 2025. Insiden tersebut berujung pada penembakan yang melukai lima orang petani.

Menurut salah satu petani yang menjadi korban, Edi Susanto, konflik ini bermula sejak perusahaan mulai beroperasi pada 2012, namun ketegangan meningkat tajam sejak 2017.

Berbagai upaya penyelesaian telah ditempuh melalui Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan hingga Pemerintah Provinsi Bengkulu, tetapi belum menghasilkan keputusan yang dianggap berpihak kepada petani.

"Semenjak datangnya perusahaan di tahun 2012 sudah mulai ada konflik. Tapi mulai puncaknya dari 2017. Kami sudah berupaya untuk penyelesaian konflik, namun sampai hari ini belum kami mendapatkan hasil yang berpihak kepada Petani Pino Raya," kata Edi Susanto saat konferensi di Kantor Walhi, Jumat (12/12).

Para petani juga mengaku mengalami berbagai bentuk intimidasi dari aparat penegak hukum maupun pihak perusahaan sebelum insiden penembakan terjadi.

Sebelum insiden 24 November, kedua pihak disebut telah beberapa kali membuat kesepakatan untuk menghentikan kegiatan pendusiran yang dilakukan perusahaan. Namun, menurut warga, kesepakatan tersebut terus dilanggar.

Petani pun kembali mendatangi lokasi operasional perusahaan pada hari kejadian untuk meminta penghentian aktivitas alat berat di lahan yang mereka klaim sebagai milik petani.

"Sudah sering berjanji, mungkin sampai tiga atau empat kali," ujarnya.

Lebih lanjut, pada 24 November 2025, petani meminta perusahaan kembali membuat surat perjanjian tertulis di lokasi kejadian. Perusahaan menolak dan meminta perwakilan petani datang ke kantor perusahaan. Namun petani menolak karena ingin seluruh warga hadir menyaksikan pembuatan perjanjian.

Petani bahkan menawarkan agar perjanjian ditulis di atas kertas apa pun asalkan ada materai. Perbedaan pendapat ini pun memicu cekcok di lapangan.

Dalam situasi memanas tersebut, petani mendengar suara tembakan. Edi, yang duduk di bagian belakang, mengaku tidak melihat langsung pelaku saat melepaskan tembakan, namun mengetahui bahwa yang menembak adalah seorang petugas keamanan perusahaan.

"Tahu-tahu kami mendengar suatu tembakan. Tapi saya tidak melihat itu dengan jelas. Terjadilah penembakan tersebut dilakukan oleh salah satu karyawan keamanan PT Agro Bengkulu Selatan," ungkapnya.

Lima petani menjadi korban, termasuk Edi Susanto, Deni, Buyung, Linsurman, dan Syaifudin. Ia mengatakan bahwa peristiwa ini bukanlah tindakan represif pertama yang dialami petani.

"Poinnya, kejadian tanggal 24 November itu bukan kejadian pertama. Sudah ada beberapa kali upaya kriminalisasi yang dilakukan oleh perusahaan dan sekuriti. Tapi puncaknya ya hari itu saat penembakan terjadi dan saya terkena tembakan di bagian paha, walaupun tipis tapi tembus," ujar Edi.

Para petani pun menegaskan bahwa penembakan tersebut harus diusut tuntas dan proses penyelesaian konflik agraria harus dilakukan secara adil. Mereka menilai tindakan represif perusahaan dan aparat hanya memperpanjang konflik dan memperparah kondisi sosial di wilayah Pino Raya.  (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya