Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Lestari Moerdijat: Pengembangan Situs Patiayam Harus Segera Dirumuskan Bersama

mediaindonesia.com
23/11/2025 20:57
Lestari Moerdijat: Pengembangan Situs Patiayam Harus Segera Dirumuskan Bersama
Fosil gading gajah purba yang ditampilkan di Museum Patiayam Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.(Antara)

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya merumuskan langkah lanjutan pascaekskavasi situs Patiayam di wilayah Kudus dan Pati, Jawa Tengah. Hal ini mendesak dilakukan sebagai upaya pelestarian menghadapi tantangan alam dan sosial.

"Ancaman dari alam yang sering berubah secara ekstrem dan masyarakat yang tidak peduli terhadap pelestarian benda-benda bersejarah di situs Patiayam harus disikapi bersama dengan langkah nyata," kata Lestari dalam keterangan tertulisnya, Minggu (23/11).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi daring bertema Memahami Situs Patiayam dalam Konteks Prasejarah Indonesia, Sabtu (22/11). Lestari mendorong kolaborasi kuat para pemangku kepentingan untuk membuat perencanaan menyeluruh demi pengembangan situs tersebut.

Dalam forum yang dihadiri berbagai pakar tersebut, Ketua CPAS Indonesia, Truman Simanjuntak, menyebut situs Patiayam sebagai kekayaan bangsa yang lengkap dan unik. Ia menekankan pentingnya konsistensi pemberian tali asih bagi masyarakat penemu fosil demi menjaga kelestarian situs.

"Situs Patiayam ini khas, lengkap, dan kaya. Kawasan ini merupakan kekayaan bangsa yang tersembunyi," ujar Truman. 

Terkait strategi penelitian, Francois Semah dari Muséum national d'Histoire Naturelle menyarankan agar ekskavasi menjauh dari lapisan-lapisan yang dipengaruhi gunung api ke lokasi-lokasi mendekat ke muara sungai yang merupakan lokasi kondusif untuk hidup di masa lalu. 

"Kalau kita ketemu sungai di masa lalu, ada kemungkinan kita akan ketemu artefak batu, fosil, bahkan mungkin fosil manusia," ujarnya. 

Menghasilkan cekungan batuan 

Pakar geologi dari Universitas AKPRIND, Sri Mulyaningsih berpendapat, aktivitas gunung berapi di sekitar Gunung Muria di masa lalu menghasilkan cekungan batuan yang disebut maar. Ia mengusulkan penelitian lanjutan diarahkan ke sekitar lokasi yang di masa lalu diduga merupakan maar tersebut. 

Sementara itu Dekan FIK Universitas Kristen Satya Wacana Ferry Fredy Karwur berpendapat, saat ini masih terjadi gap yang cukup lebar antara pemahaman para ilmuwan dan masyarakat umum terkait pentingnya situs Patiayam. 

Pada kesempatan tersebut Pemerintah Kabupaten Kudus juga berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya pelestarian dan pengembangan situs Patiayam melalui kewenangan-kewenangan yang dimilikinya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya