Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Siklon Tropis FINA Terbentuk di Laut Arafuru, Kecepatan Angin 75 Kilometer per Jam

Palce Amalo
19/11/2025 12:36
Siklon Tropis FINA Terbentuk di Laut Arafuru, Kecepatan Angin 75 Kilometer per Jam
Ilustrasi(Dok BMKG)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi El Tari Kupang mengonfirmasi bahwa Bibit Siklon Tropis 97S telah berkembang menjadi Siklon Tropis FINA pada Rabu (19/11) pukul 02.00 Wita. Sistem cuaca ini terbentuk di Laut Arafuru bagian selatan, tepatnya di wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.

Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sri Nenot’ek, menjelaskan pusat sirkulasi siklon berada pada koordinat 9.7°LS-131.6°BT, atau sekitar 900 kilometer di sebelah timur Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Siklon mencatat kecepatan angin maksimum sekitar 40 knot atau 75 kilometer per jam dengan tekanan minimum 993 hPa.

“Siklon Tropis FINA masih berada dalam area monitoring TCWC Jakarta dan intensitasnya diperkirakan akan meningkat dalam 24 jam ke depan hingga mencapai kategori 2,” ujar Sri Nenot’ek.

Menurutnya, dalam 24 jam pertama, Siklon FINA diprediksi bergerak ke timur hingga timur laut, arah yang membuatnya semakin menjauh dari wilayah Nusa Tenggara Timur.

Posisi siklon yang jauh membuat NTT tidak berada pada zona dampak langsung, sehingga risiko gangguan cuaca ekstrem di daratan relatif kecil.

Meski demikian, pengaruh tidak langsung masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah NTT, terutama berupa hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai petir, angin kencang berdurasi singkat, dan peningkatan tinggi gelombang di beberapa perairan NTT

“Wilayah yang terdampak langsung berada pada radius 150-200 kilometer dari pusat siklon. NTT berada jauh di luar radius tersebut, sehingga dampak yang dirasakan hanya bersifat tidak langsung dan relatif ringan,” jelas Sri Nenot’ek.

Dia juga meminta masyarakat tidak panik dan tetap mengandalkan informasi resmi. Menurut Sri Nenot’ek, informasi cuaca yang bersumber dari kanal tidak resmi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG dan menghindari penyebaran berita hoaks. Keselamatan dapat dijaga dengan mengikuti arahan petugas di lapangan,” ujarnya.

Selain itu, nelayan, pengguna transportasi laut, dan warga di wilayah pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di wilayah NTT. (PO/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya