Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
ECENG gondok, tanaman liar yang banyak banyak ditemukan di perairan, memiliki potensi sebagai obat luka bagi penderita diabetes. Potensi eceng gondok untuk mengobati luka pada penderita diabetes ini diungkap Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) ChloScaf+ Universitas Gadjah Mada. Tim PKM yang diketuai ini Pamastadewi Pryankha Hijrianto (Fakultas Biologi) ini beranggotakan Keanu Saputra Valenka Darmawan (Fakultas Teknologi Pertanian), Gresmawarrenes Jamuss (Fakultas Farmasi), Kamilah Kusuma Maharani (Fakultas Farmasi), dan Lidya Oktaviani (Fakultas Teknik), serta di bawah bimbingan Bapak Tyas Ikhsan Hikmawan, S.Si., M.S., Ph.D.
Penelitian yang mereka lakukan selama ini berawal dari keprihatinan terhadap peningkatan kasus diabetes mellitus (DM) yang menyebar di segala kelompok umur. Penderita diabetes mellitus berpotensi mengalami ulkus diabetikum atau luka yang sulit disembuhkan.
"Ulkus diabetikum bukanlah sekedar luka bagi penderita DM, karena ulkus diabetikum dapat mengancam nyawa ketika tidak dapat disembuhkan secara tepat dan cepat," kata Pamastadewi melalui keterangan resmi, Jumat (24/10).
Pamastadewi mengungkap, tim kemudian mengembangakan scaffold hidrogel yang berbasis bahan-bahan alami dari eceng gondok dan mikroalga. Scaffold hidrogel merupakan biomaterial yang dapat memfasilitasi pembentukan struktur jaringan.
“Eceng gondok dan mikroalga yang awalnya sering dianggap sebagai hama ataupun gangguan pada ekosistem perairan mulai dikenal masyarakat sebagai bahan alami yang bernilai ekonomis tinggi serta berpotensi sebagai komponen material dalam berbagai usaha kerajinan dan bahkan industri. Salah satunya industri kesehatan,” ungkap Pamastadewi.
Dikatakan, inovasi yang mereka kembangkan diharapkan tidak hanya dapat menyelesaikan masalah secara nyata, namun juga berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat dari sisi ekonomi. Melalui studi literatur serta penelitian yang telah dilakukan, tim ini mengembangkan dan menginovasikan scaffold hidrogel dengan memanfaatkan selulosa eceng gondok sebagai material yang mudah terurai namun memiliki daya serap yang tinggi. Inovasi juga mengelaborasikan biomassa mikroalga Chlorella vulgaris yang dikenal kaya akan antioksidan maupun metabolit sekunder.
Dengan memanfaatkan karakteristik dari kedua bahan yang saling melengkapi, ucap Pamastadewi, kesembuhan dari pasien dengan ulkus diabetikum dapat tercapai dalam waktu yang singkat. Aktivitas antibakteri pada scaffold hidrogel juga menjadi salah satu faktor penting yang menjamin penyembuhan luka bebas dari infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus.
“Keberadaan bakteri patogen tidak hanya sekedar menginfeksi bagian ulkus yang belum sembuh secara sempurna, namun juga pada kasus terparah dapat menimbulkan kematian jaringan atau gangrene yang berujung pada amputasi,” ujarnya.
Anggota tim, Lidya Oktaviani, mengungkap pengembangan scaffold hidrogel ramah lingkungan dilakukan melalui beberapa tahapan. Awalnya, serat kering dari eceng gondok perlu diolah terlebih dahulu dengan menghilangkan lapisan lilin pada serat, pemutihan serat, serta asidifikasi dengan larutan sehingga dihasilkan serat selulosa yang putih dan halus. Lalu, mikroalga hijau Chlorella vulgaris dipanen dan dikeringkan melalui liofilisasi sehingga didapatkan biomassa berwarna hijau serta beraroma khas dari mikroalga tersebut.
Untuk proses preparasi bahan yang sudah selesai kemudian dilanjutkan dengan formulasi, sehingga didapatkan scaffold hidrogel dengan berbagai konsentrasi alga sebesar 0,05%, 0,3%, dan 0,8%. “Proses penelitian tidak usai begitu saja setelah formulasi, pengujian perlu dilakukan untuk menentukan kualitas dan efektivitas dari scaffold hidrogel ini,” tutur anggota lainnya Keanu.
Inovasi ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan kimia impor, terlebih untuk bahan kimia sintetik yang biasanya digunakan dalam produksi peralatan dan material medis. “Harapan kita agar inovasi ini dapat menjadi dasar dari pengembangan lanjutan scaffold hidrogel ramah lingkungan melalui produksi skala industri,” harapnya.(M-2)
Pembersihan sungai ini bagian dari program Gerakan Perahu untuk Sapu Eceng Gondok (Garpu Sendok) untuk menuntaskan genangan banjir pada kawasan Bonorowo, Bengawan Jero.
Langkah percepatan ini difokuskan untuk menuntaskan genangan banjir di kawasan rendah Bonorowo
SEBUAH penelitian menyelidiki apakah eceng gondok, bahan tanaman obat, dapat mengurangi tingkat peradangan pada tikus yang terpapar bakteri P. gingivalis.
Kanal dipenuhi tanaman eceng gondok di Makassar
Eceng gondok memenuhi Waduk Selorejo di Malang
DOSEN Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, Dr. Mada Sukmajati menilai, argumen Pilkada melalui DPRD atau Pilkada tidak langsung masih perlu didukung data ilmiah.
MANTAN Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo hadir dalam pengukuhan guru besar,Prof. Zainal Arifin Mochtar dan pidatonya soal demokrasi
Integrasi data layanan kesehatan menjadi bagian dari ekosistem respons kebencanaan berbasis pengetahuan yang dikembangkan untuk pengambilan keputusan kesehatan yang lebih tepat sasaran.
Ketua Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito mengingatkan pentingnya menjaga otonomi desa yang merupakan buah dari reformasi.
EKSPLOITASI seksual anak di ruang digital kian mengkhawatirkan dengan maraknya manipulasi konten seksual berupa foto dan video melalui fitur kecerdasan buatan atau AI misalnya lewat Grok.
“Pemilihan lokasi pemasangan EWS didasarkan pada kejadian banjir susulan akhir tahun 2025 di Desa Lampahan Timur,”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved