Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PETANI, penyuluh dan regulator di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah meminta Kementerian Pertanian RI melanjutkan Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) yang sudah bergulir sejak 2019.
Program SIMURP dinilai bermanfaat lantaran mengarahkan petani mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan pestisida bagi pembangunan pertanian berkelanjutan melalui Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA).
Permintaan tersebut dikemukakan para petani lokasi Demplot Scalling Up di Desa Tegalrejo dan Sumbersari, Kecamatan Banyuurip, Purworejo kepada Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Banyuurip, Sri Lasturi dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkab Purworejo, Hadi Sadsila
Apresiasi dan permintaan tersebut disampaikan kepada Perwakilan National Project Implementation Unit (NPIU) dan Tim Provincial Project Implementation Unit [PPIU] SIMURP dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP] yang melakukan kunjungan untuk monitoring dan evaluasi Demplot Scalling Up SIMURP di Kecamatan Banyuurip, Purworejo, belum lama ini.
Harapan petani CSA Purworejo sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa pertanian CSA dari SIMURP berdampak positif bagi pembangunan pertanian. Sekaligus untuk meningkatkan produktivitas dan produksi tanaman pangan serta pendapatan petani.
"SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani. Khususnya bagaimana melakukan pertanian pintar dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk bagaimana mengantisipasi dan menangani penyakit tanaman, juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” kata Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam keterangannya, Senin (28/8).
Menurut Mentan Syahrul, kehidupan di perdesaan akan menjadi baik dan kuat apabila penyuluh dapat memanfaatkan dan mengadopsi teknologi inovasi dari hasil penelitian.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menyoroti dampak kegiatan CSA selain meningkatkan produktivitas, juga mampup menurunkan emisi Gas Rumah Kaca.
"Kehadiran SIMURP, diharapkan petani penerima manfaat SIMURP dapat meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian dengan mengedepankan penggunaan air yang efisien tanpa bergantung pada kondisi iklim," katanya.
Tidak hanya menyasar masalah teknis budidaya tanaman pangan, kata Dedi Nursyamsi, SIMURP juga diharapkan mampu mengembangkan kemampuan manajerial penyuluh dan pengelola di BPP.
baca juga: Temu Lapang Petani Bahas Manfaat Pertanian Cerdas Iklim
Dalam kunjungan kerja di Kecamatan Banyuurip, Purworejo, Tim NPIU dari Kementan menyimak paparan pelaksanaan SIMURP dilanjutkan melihat hasil produksi pertanian dan olahan dari kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani, serta meninjau lahan Demplot Scalling Up dari CSA di Desa Tegalrejo dan Desa Sumbersari.
Dalam kesempatan tersebut, Kadistan Pemkab Purworejo, Hadi Sadsila mengapresiasi dukungan Kementan bersama SIMURP bergulir sejak 2019, yang bermanfaat bagi petani dan penyuluh mengembangkan pertanian berkelanjutan.
"Kami harapkan Program SIMURP tetap berlanjut di Purworejo," katanya kepada Tim NPIU yang disaksikan para penyuluh setempat, Kades dan perwakilan petani dari Desa Tegalrejo dan Sumbersari.
Permintaan serupa dikemukakan Koordinator BPP Banyuurip, Sri Lasturi yang berharap Program SIMURP tetap berlanjut. Saat ini ada tujuh kecamatan yang melaksanakan SIMURP sementara di Kecamatan Banyuurip berlangsung pada 27 desa oleh 130an kelompok tani. (N-1)
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved