Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PETANI, penyuluh dan regulator di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah meminta Kementerian Pertanian RI melanjutkan Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) yang sudah bergulir sejak 2019.
Program SIMURP dinilai bermanfaat lantaran mengarahkan petani mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan pestisida bagi pembangunan pertanian berkelanjutan melalui Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA).
Permintaan tersebut dikemukakan para petani lokasi Demplot Scalling Up di Desa Tegalrejo dan Sumbersari, Kecamatan Banyuurip, Purworejo kepada Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Banyuurip, Sri Lasturi dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkab Purworejo, Hadi Sadsila
Apresiasi dan permintaan tersebut disampaikan kepada Perwakilan National Project Implementation Unit (NPIU) dan Tim Provincial Project Implementation Unit [PPIU] SIMURP dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP] yang melakukan kunjungan untuk monitoring dan evaluasi Demplot Scalling Up SIMURP di Kecamatan Banyuurip, Purworejo, belum lama ini.
Harapan petani CSA Purworejo sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa pertanian CSA dari SIMURP berdampak positif bagi pembangunan pertanian. Sekaligus untuk meningkatkan produktivitas dan produksi tanaman pangan serta pendapatan petani.
"SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani. Khususnya bagaimana melakukan pertanian pintar dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk bagaimana mengantisipasi dan menangani penyakit tanaman, juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” kata Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam keterangannya, Senin (28/8).
Menurut Mentan Syahrul, kehidupan di perdesaan akan menjadi baik dan kuat apabila penyuluh dapat memanfaatkan dan mengadopsi teknologi inovasi dari hasil penelitian.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menyoroti dampak kegiatan CSA selain meningkatkan produktivitas, juga mampup menurunkan emisi Gas Rumah Kaca.
"Kehadiran SIMURP, diharapkan petani penerima manfaat SIMURP dapat meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian dengan mengedepankan penggunaan air yang efisien tanpa bergantung pada kondisi iklim," katanya.
Tidak hanya menyasar masalah teknis budidaya tanaman pangan, kata Dedi Nursyamsi, SIMURP juga diharapkan mampu mengembangkan kemampuan manajerial penyuluh dan pengelola di BPP.
baca juga: Temu Lapang Petani Bahas Manfaat Pertanian Cerdas Iklim
Dalam kunjungan kerja di Kecamatan Banyuurip, Purworejo, Tim NPIU dari Kementan menyimak paparan pelaksanaan SIMURP dilanjutkan melihat hasil produksi pertanian dan olahan dari kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani, serta meninjau lahan Demplot Scalling Up dari CSA di Desa Tegalrejo dan Desa Sumbersari.
Dalam kesempatan tersebut, Kadistan Pemkab Purworejo, Hadi Sadsila mengapresiasi dukungan Kementan bersama SIMURP bergulir sejak 2019, yang bermanfaat bagi petani dan penyuluh mengembangkan pertanian berkelanjutan.
"Kami harapkan Program SIMURP tetap berlanjut di Purworejo," katanya kepada Tim NPIU yang disaksikan para penyuluh setempat, Kades dan perwakilan petani dari Desa Tegalrejo dan Sumbersari.
Permintaan serupa dikemukakan Koordinator BPP Banyuurip, Sri Lasturi yang berharap Program SIMURP tetap berlanjut. Saat ini ada tujuh kecamatan yang melaksanakan SIMURP sementara di Kecamatan Banyuurip berlangsung pada 27 desa oleh 130an kelompok tani. (N-1)
Studi terhadap 5 juta kelahiran di Afrika dan India mengungkap tren mengejutkan, paparan panas saat hamil menurunkan jumlah bayi laki-laki yang lahir.
Berbeda dengan aksi penanaman biasa, program ini mencakup pendampingan nursery (pembibitan) bagi masyarakat lokal.
Kehidupan masyarakat pesisir di Karimunjawa mengalami perubahan karena dampak dari perubahan iklim yang terus menerus.
PERWAKILAN Perempuan Nelayan Sumatra Utara, Jumiati, mengungkapkan perubahan iklim membuat cuaca sulit diprediksi. Itu berdampak pada banyaknya nelayan di kampungnya kesulitan melaut.
Studi terbaru mengungkap tanaman tropis mengalami pergeseran waktu berbunga hingga 80 hari. Fenomena ini mengancam rantai makanan dan kelangsungan hidup hewan.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved