Selasa 24 Januari 2023, 16:23 WIB

Jelang Musim Kemarau, Pemprov Sumsel Mulai Mitigasi Bencana Karhutla

Dwi Apriani | Nusantara
Jelang Musim Kemarau, Pemprov Sumsel Mulai Mitigasi Bencana Karhutla

DOK MI
Ilustrasi

 

MUSIM kemarau tahun ini diperkirakan akan terjadi mulai Mei atau Juni. Hal itu sesuai dengan prakiraan musim dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Terkait hal itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) melakukan berbagai antisipasi terkait potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebab, Sumsel memiliki kawasan geografis yang merupakan daerah gambut terluas di Indonesia, sehingga potensi karhutla akan sangat mudah terjadi saat kekeringan melanda wilayah tersebut.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sumsel, Edward Chandra mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah di kabupaten dan kota di Sumsel untuk memitigasi bencana karhutla. "Kami sudah mulai berkoordinasi dengan kabupaten dan kota di Sumsel, untuk mempersiapkan lebih dini pencegahan karhutla," kata dia, Selasa (23/1).

Ia menjelaskan, berbeda dari tiga tahun sebelumnya kemarau basah mendominasi cuaca di Sumsel. Sebab diketahui kemarau kering memicu karhutla besar yang terjadi di Sumsel pada tahun 2015 dan 2019 lalu.

"Kewaspadaan dengan mempersiapkan mitigasi bencana lebih dini jadi prioritas. Jika memang terjadi kemarau kering dengan jumlah hari tanpa hujan yang panjang, maka segala kemungkinan harus dipersiapkan dengan matang," ujarnya.

Pemprov Sumsel, jelasnya, masih memetakan daerah rawan karhutla 2023 sambil menunggu daerah menetapkan status siaga. "Termasuk pemadaman dari udara dan darat akan diterapkan sama seperti tahun-tahun sebelumnya," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumsel Iriansyah menjelaskan, ada tiga daerah yang masuk kategori rawan yakni, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin dan Banyuasin.

"Saat kemarau kering luasan lahan yang terbakar sangat besar. Berdasarkan catatan, pada 2015 dan 2019 itu harus menjadi pembelajaran berharga untuk kita. Pada 2015 ada sekitar 700.000 hektare terbakar dan 2019 seluas 329.485 hektare," jelasnya.

Iriansyah menjelaskan kemarau basah sangat berpengaruh pada pengendalian karhutla. Seperti pada 2020 lalu, luas lahan terbakar hanya 950 hektare, 2021 ada 5.216 hektare, dan 2022 ada 3.719 hektare.

"Kita berkoordinasi dengan TNI, Polri, Manggala Agni dan juga pemerintah kabupaten dan kota untuk mempersiapkan pencegahan diri karhutla. Mengenai jumlah personel sangat bergantung pada eskalasi kebakaran lahan yang terjadi nantinya," pungkasnya. (OL-15)

Baca Juga

DOK.MI

Situasi Polres Malinau Kaltara Kondusif Usai Dirusak Massa

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 05 Februari 2023, 23:20 WIB
Peristiwa ini berawal dari tertembaknya korban LH oleh Brigadir W dari Tim Intel Resmob Kompi 4 Yon A Pelopor Polda...
ANTARA/Istafan Najmi

BKSDA Teliti Perilaku Harimau Sumatra Serang Warga di Aceh Selatan

👤Amiruddin Abdullah 🕔Minggu 05 Februari 2023, 23:05 WIB
Sampel darah harimau tersebut akan dikirim ke Laboratorium PSSP Bogor untuk pemeriksaan canine distemper...
ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Kirab Barongsai dan Liong Meriahkan Cap Go Meh di Denpasar

👤Ruta Suryana 🕔Minggu 05 Februari 2023, 22:40 WIB
Kirab barongsai dan liong tidak hanya melibatkan warga keturunan Tionghoa dan umat di klenteng, tetapi juga masyarakat Hindu Bali dari...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya