Selasa 28 Juni 2022, 17:08 WIB

Ratusan Hektare Lahan di Sumsel Telah Terbakar

Dwi Apriani | Nusantara
Ratusan Hektare Lahan di Sumsel Telah Terbakar

DOK MI
Ilustrasi

 

PROVINSI Sumatera Selatan (Sumsel) saat ini tercatat sudah memasuki musim kemarau. Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) KLHK wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto mengatakan dari awal Januari hingga kini, kasus kebakaran hutan dan lahan terus berlangsung.

Ia mengungkapkan, jumlah luas lahan yang terbakar di semester pertama 2022 mencapai 472,07 hektare. Jumlah tersebut meningkat dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 100,9 hektare. "Tidak hanya terjadi di daerah rawan, namun titik api ternyata juga muncul di tiga wilayah baru," jelasnya.

Tiga wilayah baru kasus karhutla yakni Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dengan luas mencapai 43 hektare, Muara Enim 30 hektare, dan Musi Rawas 10 hektare. Penambahan tiga wilayah dianggap tidak biasa. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ada pergeseran pola wilayah kebakaran di Sumsel.

"Tiga wilayah itu dulunya jarang terbakar. Tahun ini kebakaran terjadi cukup luas. Meski begitu rata-rata kebakaran lahan di ketiga wilayah itu bersifat sporadis dengan luas lahan terbakar sekitar 2 hektar," ungkap dia.

Pihaknya mencatat jika kebakaran lahan di Sumsel sebelumnya diakibatkan perambahan untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan, maka saat ini mulai bergeser untuk pembangunan kawasan perumahan. "Perubahan pola kebakaran lahan ini harus segera diantisipasi oleh pihak terkait," jelas dia.

Menurut Ferdian, perambahan lahan mulai meningkat sejak dua bulan terakhir. Jika tidak diantisipasi, ia mengkhawatirkan lahan yang dibakar akan menciptakan kebakaran lahan yang lebih luas.

Untuk mengantisipasi puncak kemarau yang pada Juli-September mendatang, pihaknya masih menargetkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Metode TMC yang sudah dilakukan selama 15 hari berdampak positif pada peningkatan curah hujan di Sumsel.

"Kita berharap dengan hujan buatan membaut lahan yang rentan terbakar akan terus basah dan embung tetap terisi air. Embung ini berdampak pada persediaan air saat ada lahan sekitar yang terbakar," pungkasnya. (OL-15)

 

Baca Juga

Antara

Covid-19 Masih Naik, Jateng Tetap Gelar PTM 100 Persen

👤Akhmad Safuan 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 23:46 WIB
KASUS covid-19 di berbagai daerah di Jawa Tengah kembali meningkat dan kini telah mencapai 1.555 warga dirawat di rumah sakit maupun...
dok.ist

Nelayan Sulsel Dukung Ganjar Presiden 2024

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 21:56 WIB
TERIKNYA mentari di pesisir Matene tak menggoyahkan semangat komunitas nelayan di Tanete Rilau, Kabupaten Barru, Sulsel menyatakan dukungan...
DOK MI.

Junjung Netiket, Jadi Pejuang Antihoaks

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 21:15 WIB
Di antara netiket yaitu kompetensi mengakses informasi sesuai netiket serta menyeleksi dan menganalisis informasi saat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya