Selasa 17 Mei 2022, 16:29 WIB

Legenda Desa Batu Perahu di Pedalaman Meratus

Denny Susanto | Nusantara
Legenda Desa Batu Perahu di Pedalaman Meratus

MI/Denny Susanto
Legenda batu perahu di Desa Batu Perahu pedalaman Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan

 

BULAN Mei menjelang Juni adalah bulan dimulainya musim kemarau. Namun dalam beberapa waktu belakangan ini, musim semakin sulit ditebak. Terjadi anomali iklim.

Tim Ekspedisi Meratus berkunjung ke Desa Batu Perahu, salah satu desa terpencil di Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan. Disebut terpencil karena memang secara geografis desa ini berada sangat jauh dan sulit dijangkau.

Dari desa terdekat yaitu Desa Atiran, Desa Batu Perahu dapat dijangkau dengan berjalan kaki lebih kurang 5-6 jam. Saat musim kemarau, kondisi jalan bisa dilalui sepeda motor. Kondisi berupa sebagian jalan sudah berpaving blok dan sebagian jalan tanah setapak di tengah hutan. Butuh dua jam menggunakan sepeda motor menuju ke Desa Atiran.

Namun jalur ini pun hanya dapat dilalui jenis kendaraan trail atau kendaraan modifikasi untuk medan berat.

Rombongan kecil Tim Ekspedisi Meratus yang terdiri dari Pena Hijau Indonesia, Serikat Petani Indonesia dan mahasiswa pecinta alam, serta perwakilan tokoh masyarakat dan Pokdarwis setempat, juga mendapati kondisi rute jalan rusak akibat diguyur hujan terus menerus.

"Ekspedisi dengan tujuan utama memotret kondisi sosial dan budaya, juga potensi desa-desa terpencil di kawasan Pegunungan Meratus ini harus tetap dilaksanakan," tutur Sanusi, anggota Tim Ekspedisi Meratus.

Tim ekspedisi memutuskan berangkat dari Desa Kiyu/Hinas Kiri, desa terakhir untuk pendakian Gunung Halau-halau dengan berjalan kaki,
karena pertimbangan kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Dan rencana tim untuk melanjutkan perjalanan ke desa terpencil lainnya jauh ke pedalaman yaitu Dusun Bahul (Batu Perahu) dan Desa Aing Bantai.

Perjalanan tim ekspedisi dimulai pukul 8.30 wita dengan menyeberangi Sungai Alat yang berarus deras. Jalur potong kompas dari Desa Kiyu ini sangat menguras tenaga karena sejak awal harus melintasi track menanjak.

Meski sangat melelahkan, di sepanjang perjalanan ada banyak spot yang menyuguhkan keindahan alam berupa bentang pegunungan dan potensial dijadikan obyek wisata.

"Salah satu kendala di desa-desa terpencil di Meratus, termasuk desa kami adalah akses jalan dan listrik. Belum lagi kalau kita bicara soal pembangunan infrastruktur lain seperti kesehatan dan pendidikan," kata Kepala Desa Batu Perahu periode 2022-2027, Ana saat berdialog
dengan tim ekspedisi yang baru tiba di desa sekitar pukul 13.45 wita.

Legenda Batu Perahu

Desa Batu Perahu, salah satu desa yang ada di pedalaman Pegunungan Meratus ini memiliki keunikan karena di tengah desa terdapat hamparan bebatuan berukuran sedang dan besar yang luas. Selain itu ada legenda tentang batu perahu yang dipercaya warga desa sehingga kemudian dijadikan nama desa.

Menurut cerita Darwani, tokoh masyarakat Desa Batu Perahu, nama desa yang dihuni sekitar 305 jiwa warga suku Dayak Meratus ini
betkaitan dengan legenda Batu Perahu. Legenda ini mirip legenda Tangkuban Perahu di Jawa Barat.

Diceritakan dahulu kala ada dua orang sakti yang bermusuhan yaitu Datu Ayuh dan Datu Samalihing (Pangalih), berkelahi di tepi Sungai Alai. Datu Ayuh yang kalah berkelahi, harus merelakan perahunya disita dan dijadikan batu oleh Datu Samalihing.

Sekilas batu sepanjang 6 meter di tepi sungai ini mirip perahu. Hingga kini cerita batu perahu ini terus berkembang di tengah masyarakat. Tak jarang pada waktu-waktu tertentu banyak warga dari berbagai daerah datang mengunjungi batu ini dengan berbagai hajad dan menjadikannya batu keramat.

Hal menarik lain dari desa ini adalah terdapat 60 bangunan rumah Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang dibangun pemerintah. Serta wisata alam goa dan potensi sarang burung walet yang banyak diusahakan warga. (N-1)

 

Baca Juga

ANTARA/Fransisco Carolio

Titik Api Bertambah 10 Kali Lipat, Sumut Siaga Karhutla

👤Yoseph Pencawan 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 23:25 WIB
Sumut memiliki wilayah yang rentan mengalami karhutla karena memiliki 3,7 juta ha lahan hutan dan 261 ha lahan...
MI/Kristiadi

Komunitas Mak Ganjar Garut Berdoa Memohon Kemajuan Bangsa

👤Adi Kristiadi 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 22:28 WIB
RATUSAN Ibu-Ibu bergabung ke dalam komunitas relawan Mak Ganjar untuk mengikuti acara Zikir dan Do'a Bersama untuk Kemajuan Bangsa di...
dok.ist

Perempuan Milenial Sumsel Ajak Pilih Figur yang Terbukti Memajukan Perempuan

👤Dwi Apriani 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 22:15 WIB
UPAYA konsolidasi dukungan untuk Ganjar Pranowo ini digelar dalam acara  healty fun day di Gedung Graha Bandara Insani, Talang Jambe,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya