Senin 29 Maret 2021, 13:32 WIB

Alih Fungsi Lahan Diduga Sebabkan Puting Beliung di Cimenyan

Depi Gunawan | Nusantara
Alih Fungsi Lahan Diduga Sebabkan Puting Beliung di Cimenyan

MI/Depi Gunawan
Warga Desa Mekarsaluyu, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung membereskan perabotan yang masih bisa terpakai pasca puting beliung

 

PUTING beliung menerjang Desa Mekarsaluyu, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Minggu (28/3) sore. Peristiwa itu menyebabkan sejumlah rumah warga rusak dan pohon tumbang.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kecepatan angin yang tercatat di Stasiun Geofisika Bandung pada pukul 15.00 WIB sekitar 28 kilometer/jam.

Penyebab angin puting beliung yang disertai hujan deras dipengaruhi beberapa faktor. Berdasarkan pantauan citra satelit terdapat pembentukan awan Cumulonimbus di wilayah Cimenyan sekitar pukul 15.20 WIB serta kondisi kelembapan yang cenderung basah pada ketinggian kurang lebih 3 kilometer di atas permukaan laut mendukung pembentukan awan-awan hujan.

"Untuk faktor regional, adanya daerah belokan angin (shearline) di Jawa Barat bagian tengah serta adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia. Seiring akan memasuki periode transisi/pancaroba, ditandai dengan gejala cuaca yang tidak stabil dan adanya perubahan pola angin sehingga potensi hujan yang terjadi bisa disertai kilat/petir dan angin kencang atau angin puting beliung," kata Prakirawan cuaca BMKG Bandung Muhammad Iid, Senin (29/3).

Ditambah dengan faktor global, yakni karena terdapat anomali suhu permukaan laut di perairan Jawa Barat yang masih cenderung hangat sehingga berpeluang terjadi pembentukan awan konvektif potensial hujan.

Menurut dia, angin puting beliung bisa terjadi dimana saja termasuk di kawasan dataran tinggi seperti Cimenyan selama ada proses pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb). Hal itu ditambah adanya perubahan fungsi lahan pertanian atau pemukiman sehingga proses konveksi cukup kuat untuk pembentukan awan Cumulonimbus.

"Kondisi musim saat ini kita akan memasuki periode transisi atau pancaroba sehingga fenomena angin puting beliung dan cuaca ekstrem bisa kerap saja terjadi," bebernya.

Baca juga:  Angin Puting Beliung Terjang Pemukiman Warga Kabupaten Bandung

Iid mengungkapkan, salah satu tanda atau potensi bakal terjadi puting beliung biasanya adanya keberadaan awan Cumulonimbus, tapi tidak mesti pula ada awan Cb yang menyebabkan angin puting beliung.

Masyarakat bisa memprediksi awal terjadi puting beliung dengan melihat keberadaan awan Cumulonimbus yang mengalami perubahan secara drastis, yang tadinya putih berubah menjadi hitam pekat.

"Kejadian angin puting beliung sifatnya lokal sekali dan durasinya tidak lama. Terkadang prosesnya mulai dari tumbuh hingga proses disipasi atau peluruhan awan berupa hujan disertai angin puting beliung dalam hitungan menit, kurang lebih selama 40 menit," jelasnya.(OL-5)

Baca Juga

dok.Ist

PAPDESI Gelar Musyawarah Daerah di Kabupaten Karawang

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Februari 2023, 08:30 WIB
PERKUMPULAN Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (PAPDESI) menggelar kegiatan Musyawarah Daerah bersama ratusan kepala daerah di...
MI/HO

Tanggani Inflasi, Pemkab Mubar Bakal Gelar Pasar Murah

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Februari 2023, 07:55 WIB
PEMKAB Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara terus melakukan terobosan dalam penanganan inflasi daerah di awal 2023. Salah satunya ialah...
dok.mi

Mantan Anggota DPRD Manggarai Timur Diduga Cabuli Balita

👤Yohanes Manasye 🕔Kamis 02 Februari 2023, 07:25 WIB
ANAK di bawah usia 5 tahun (Balita) di Kabupaten Manggarai Timur, NTT mengadu kepada orang tuanya telah mengalami pencabulan. Terduga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya