Kamis 04 Februari 2021, 20:10 WIB

Hujan Dituding Picu Banjir Bandang di Gunung Mas Bogor

Bayu Anggoro | Nusantara
Hujan Dituding Picu Banjir Bandang di Gunung Mas Bogor

MI/Ramdani
Eskavator memindahkan batu untuk membuka jalan aliran air pascabanjir bandang di Kampung Gunung Mas, Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor.

 

DINAS Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat menganalisa penyebab banjir bandang yang menerjang Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Selasa (19/1) pagi. Hasilnya, bencana terjadi karena curah hujan yang tinggi serta struktur alam yang memang rawan bencana.

"Hujan tinggi banget, limpasan satu juta liter. Sama dengan tumpahan 145 mobil tangki air yang (masing-masing) berkapasitas 8.000 liter," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat Prima Mayaningtyas, di Bandung, Kamis (4/2)

Curah hujan yang tinggi, kata dia, diperburuk struktur alam di Sub DAS Cisampay yang menjadi kawasan hulu daerah tersebut yang memang rawan bencana. Menurutnya, banyak tanah di daerah seluas 684 hektare tersebut yang kemiringannya lebih dari 40 derajat.

"Elevasinya miring banget, curam. Ada 45% yang seperti itu," ujarnya.

Tak hanya itu, dia menyebut tanah di kawasan hulu itu cukup gembur sehingga rawan pergerakan. Jadi, tidaklah heran jika daerah itu rawan longsor dengan indeks mencapai 6,9%.  "Jadi kawasan hulu itu memang rawan bencana, 54%. Ini sangat tinggi," ujar Prima.

Tak hanya itu, menurut dia di kawasan ini terdapat lima hulu sungai, sedangkan di hilirnya hanya terdapat satu aliran air. "Jarak dari lima hulu sungai ke aliran air itu hanya satu kilometer," tambahnya.

Dengan begitu, tambah Prima, saat hujan turun di kawasan hulu, aliran sungai yang jumlah hanya satu tersebut mudah terisi limpasan air yang pergerakannya sangat cepat akibat volume yang banyak serta tingkat kemiringan tanah yang curam. Pada sisi lain, perlintasan air itu terisi juga oleh material longsoran sehingga terjadi penyumbatan. "Jadi satu-satunya aliran sungai itu tertutup," kata dia.

Berdasarkan analisa itu, Prima menyimpulkan penyebab banjir bandang hampir
seluruhnya akibat faktor alam. Apalagi, tidak ada kerusakan alam yang berarti mengingat alih fungsi lahan yang jumlahnya masih sedikit. "Di sana itu lahan yang terbangun hanya 1%," katanya.

Inipun diperkuat oleh kondisi alam yang masih didominasi oleh hutan. "Tutupan lahannya hutan, masih utuh," katanya.

Prima pun menegaskan, kawasan tersebut tidak boleh dialihfungsikan. Apalagi digunakan untuk permukiman maupun bangunan lainnya. Sehingga, menurutnya di kawasan itu harus terbebas dari berbagai aktivitas manusia baik yang bersifat permanen.

"Itu rawan bencana. Tingkat kemiringan tinggi, rawan pergerakan tanah," ujarnya. (OL-13)

Baca Juga: Banjir Bandang Landa Gunung Mas Puncak

Baca Juga: BIG Sebut Gunung Mas Masih Terancam Banjir

Baca Juga

MI/Tosiani

Kasus DBD di Kota Bandung Meningkat

👤Naviandri 🕔Minggu 23 Januari 2022, 12:30 WIB
PEMKOT Bandung, Jawa Barat meminta masyarakat untuk waspada Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah dan...
MI/Haryanto

Ganjar Perintahkan Operasi Pasar Minyak Goreng di Pasar Tradisional

👤 Akhmad Safuan 🕔Minggu 23 Januari 2022, 11:13 WIB
Masih tingginya harga minyak goreng di pasar tradisional, lanjut Ganjar Pranowo, karena para pedagang masih menghabiskan stok yang...
MI/Moat Angga

Mahasiswi Akper Lela Maumere, Kuliah Sambil Jualan Pisgor

👤Gabriel Langga 🕔Minggu 23 Januari 2022, 10:55 WIB
UNTUK meraih cita-cita butuh perjuangan, keringat dan airmata, hal itu ditunjukkan mahasiswi Akademi Keperawatan (Akper) Santa Elisabeth...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya