Minggu 22 November 2020, 11:19 WIB

PGRI Cianjur Minta Jaminan Keamanan Sebelum Belajar Tatap Muka

Benny Bastiandy | Nusantara
PGRI Cianjur Minta Jaminan Keamanan Sebelum Belajar Tatap Muka

ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Ilustrasi--Sejumlah siswa kelas V SD Negeri 1 Cempaga mengikuti belajar tatapmuka di Pos Kamling Desa Cempaga, Buleleng, Bali.

 

PERSATUAN Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mendukung rencana dimulainya kembali pembelajaran tatap muka di semua tingkatan sekolah. Namun, sebelum belajar tatap muka dilaksanakan, tentu semua fasilitas protokol kesehatan serta skema tata cara pembelajaran di kelas harus betul-betul aman dari potensi penyebaran covid-19.

Ketua PGRI Kabupaten Cianjur Jumyati mengatakan, pada prinsipnya, PGRI sebagai sebuah organisasi profesi, tentu akan melaksanakan apapun yang menjadi kebijakan dari pusat. Artinya, selama kebijakan itu untuk kebaikan segenap bangsa, PGRI akan mendukung penuh.

"Termasuk rencana pembelajaran tatap muka pada awal tahun depan, kami tentu mendukung. Terutama bagi para guru yang hampir 9 bulan terakhir ini tentu mengalami kejenuhan karena lebih banyak mengajar secara daring," kata Jumyati saat dihubungi Media Indonesia melalui telepon selulernya, Minggu (22/11).

Baca juga: Penyebaran Covid-19 Naik Lagi, Sekolah di Ternate Kembali Ditutup

Namun, Jumyati meminta agar berbagai persiapan menghadapi pembelajaran tatap muka tidak terlalu dibebankan kepada guru. Misalnya, untuk pelaksanaan tes usap para guru yang mungkin akan dijadikan sebagai salah satu syarat pembelajaran tatap muka.

"Tes swab itu kan relatif mahal. Mungkin ada sebagai besar yang tidak akan mampu membayar biaya tes swab, seperti guru honorrer. Biaya tes usap bisa jadi seharga gaji 3 bulan bagi guru honorer," terangnya.

Jumyati menegaskan berbagai persiapan harus betul-betul matang sebelum dimulainya pembelajaran tatap muka. Utamanya menyangkut keamanan bagi guru dan siswa agar tidak berpotensi terpapar covid-19.

"Di saat pandemi covid-19 ini yang harus diperhatikan tentu penerapan protokol kesehatan. Bagaimana misalnya di setiap sekolah sarana dan prasarana protokol kesehatannya sudah tersedia maksimal atau belum, bagaimana pengaturan di dalam kelas agar antarsiswa bisa menjaga jarak, bagaimana juga pengaturan jadwal pembelajaran karena jumlah siswa di dalam kelas pasti akan dibatasi. Nah, hal-hal ini harus betul-betul matang," ungkapnya.

Positifnya respons dari PGRI tidak terlepas juga kemampuan penguasaan teknologi yang dimiliki setiap guru. Pasalnya, selama pembelajaran jarak jauh, masih ada guru yang belum menguasai cara mengoperasikan gawai secara maksimal alias gagap teknologi (gaptek).

"Hanya sekitar 50% yang menguasai teknologi. Sisanya belum bisa maksimal. Jadi, memang perlu segera dilaksanakannya pembelajaran secara manual (tatap muka)," pungkasnya. (OL-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas.

BPBD Aceh Barat Pastikan Kebakaran Lahan Gambut di Dua Lokasi 100 Persen Padam

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 23:24 WIB
Meski sudah dinyatakan padam secara total, pihaknya masih terus melakukan pemantauan di lokasi kebakaran guna memastikan tidak ada lagi...
Antara

BPBD: Kerugian Gempa Bali Capai Rp1 Miliar

👤Ant 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 23:01 WIB
Total ada 269 unit rumah yang rusak berat, 302 unit rumah rusak ringan, dan 39 fasilitas umum...
Ist

Intani Dukung Petani di Ciwidey dan Lembang, Bandung, Ekspor Buncis

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 21:52 WIB
Intani berkolaborasi dengan CV Berkah Alam Pasundan (BAP) membina petani dan memasarkan hasil pertanian agar para petani mendapat kepastian...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya