Jumat 18 September 2020, 03:50 WIB

Rawan Pangan masih Mengancam Daerah Terpencil

Gabriel Langga | Nusantara
Rawan Pangan masih Mengancam Daerah Terpencil

MI/Ferdinandus Rabu
Demi Ketahanan Pangan, Petani Sorgum NTT Gelar Rembuk Bersama.

 

KETAHANAN pangan masih jadi persoalan di sejumlah wilayah. Seperti diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Hengki Sali, di wilayahnya ada 9 dari 21 kecamatan yang tahun ini rentan kerawanan pangan.

“Faktor penyebabnya luas tanam yang kurang dan puso akibat musim yang tidak bersahabat. Kerawanan terjadi terhadap komoditas pertanian yang ditanam warga, mulai padi, jagung, hingga ubi kayu dan ubi jalar,” ujarnya.

Hanya satu kecamatan yang stok pangannya aman, yakni Kecamatan Paga. “Sebelas kecamatan lain berkategori waspada pangan. Kerawanan ini terjadi karena pada Juni lalu, luas tanam untuk sejumlah komoditas pertanian sangat kecil,” tambah Hengki.

Kondisi itu juga berpengaruh terhadap status gizi balita. Dari catatan posyandu, dari 21 kecamatan, hanya satu kecamatan dalam kategori waspada, yakni Hewokloang. Dua puluh kecamatan lain dalam kategori rawan. “Jumlah balita mengalami kenaikan berat badan sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah balita yang ditimbang.”

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, kemarau telah menyebabkan 20 hektare lahan persawahan mengalami gagal panen. Lahan tersebar di 69 kecamatan pada 10 kecamatan.

“Kekeringan terparah terjadi di Kecamatan Tamansari, Purbaratu dan Cibeureum,” kata Kepala Dinas Ketahanan pangan Kota Tasikmalaya, Tedi Setiadi.

Persoalan ketahanan pangan yang lain terjadi di Kabupaten Sukabumi. Sejumlah petani di Kecamatan Cisaat mengaku belum bisa memanfaatkan kartu tani untuk membeli kebutuhan pertanian, terutama pupuk.

“Di kios pupuk belum tersedia alat electronic data capture. Petani bingung sehingga mereka terpaksa membeli pupuk nonsubsidi yang harganya di atas pupuk subsidi,” ungkap Koordinator Balai Penyuluh Pertanian Cisaat, Susilowati.

Sesuai jadwal, seharusnya kartu tani bisa digunakan membeli pupuk subsidi mulai 1 September lalu. “Kami belum mendapat kepastian lagi kapan tepatnya kartu tani bisa efektif digunakan,” tambahnya.

Kabar baik bertiup dari Banyumas, Jawa Tengah. Tahun ini, target penyerapan oleh Bulog sudah terlampaui, yakni mencapai 24,1 ribu ton beras dari target 23,6 ribu ton. (GL/AD/BB/BK/LD/DW/N-2)

Baca Juga

DOK MI

Babel Fokus Tangani Stunting di Tiga Kabupaten

👤Rendy Ferdiansyah 🕔Selasa 13 April 2021, 19:13 WIB
PEMERINTAH Provinsi Bangka Belitung (Babel) terus berupaya menurunkan  angka stunting khususnya di tiga kabupaten yaitu Bangka Selatan...
innovativegenomics.org

Libur Panjang, Pasien Covid-19 di Cianjur Meningkat

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 13 April 2021, 18:45 WIB
Angka penularan terlihat bertambah dari jumlah pasien di ruang isolasi RSUD Cianjur yang sebelumnya tinggal puluhan orang menjadi 175...
Humas Pemkab Tuban

Pemkab Tuban Minta Pusat Percepat Proyek Pengendali Banjir

👤M Yakub 🕔Selasa 13 April 2021, 18:37 WIB
PEMERINTAH Kabupaten Tuban, Jawa Timur meminta Pemerintah Pusat melakukan percepatan pelaksanaan sejumlah proyek pengendali banjir di...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Salah Kaprah Salurkan Energi

Kenakalan remaja pada masa lalu hingga masa kini masih ada, bahkan semakin meninggi. Itu terjadi karena remaja sering kali mementingkan solidaritas grup.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya