Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
HARUN melupakan usianya. Meski sudah berumur 75 tahun, pria itu masih giat menggerakkan perkakas kebersihan di tangannya.
Siang itu, bersama beberapa warga, ia membersihkan Balai Adat Desa Ajung, di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Desa ini terletak di kaki Pegunungan Meratus. Sang balian atau tokoh agama desa itu memimpin persiapan menjelang aruh bawanang, upacara adat yang digelar setelah panen ladang.
Panen diperkirakan akan tiba pada akhir September ini. Harun juga kepala balai adat. “Aruh harus kami lakukan untuk mensyukuri hasil panen,” katanya sambil memeriksa perkakas ritual di ruang induk balai. Ajung berjarak 48 kilometer dari Paringin, ibu kota Kabupaten Balangan. Lewat jalur darat, desa wisata itu bisa dicapai kurang dari 2 jam. Tak terlalu sulit karena saat ini jalannya cukup mulus.
Desa ini dihuni sekitar 187 keluarga suku Dayak Pitap, salah satu bagian dari masyarakat Dayak Meratus atau Dayak Bukit. Mayoritas masih memegang teguh agama leluhur mereka, yakni Kaharingan. Namun, di dalam KTP, mereka merelakan tercatat sebagai penganut Hindu Kaharingan. Saat ini, populasi warga suku Dayak di Kalimatan Selatan ditaksir sekitar 60 ribu jiwa lebih.
Mereka tersebar di kaki Pegunungan Meratus hingga perbatasan dengan Kalimantan Tengah. Warga itu diam di delapan kabupaten, yakni Sungai Tengah, Balangan, Hulu Sungai Selatan, Tabalong, Kotabaru, Tanah Laut, Tapin, dan Banjar.
Masyarakat suku Dayak atau sering disebut komunitas masyarakat adat ini berhimpun di bawah naungan balai adat. Badan Pusat Statistik mencatat adanya 32 balai adat yang tersebar di wilayah Kalimantan Selatan. Ajung salah satunya.
Meski sebagian telah membaur dengan kehidupan urban, warga Dayak tetap menjunjung budaya nenek moyang mereka. Salah satunya Kaharingan sebagai kepercayaan mereka. “Sebenarnya, masyarakat Dayak yang masih mempertahankan agama Kaharingan murni tinggal sedikit. Itu pun tersisa kelompok tetua yang tinggal di pedalaman Pegunungan Meratus,” kata Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah yang juga tokoh Dayak, Berry Nahdian Forqan.
Sebagian lainnya, lanjut dia, sudah masuk Islam, Kristen, atau Hindu. Beragam alasan dan kepentingan. Pindah agama, tutur dosen sejarah dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Mansyur, terjadi karena warga Dayak terjepit oleh perubahan sosial dan lingkungan. “Walaupun kepercayaan lama ditinggalkan, praktik upacaranya tetap digelar.” Maraknya eksploitasi sumber daya alam memaksa orang Dayak berubah.
Alam ialah basis kepercayaan Kaharingan. Kerusakan alam mengancam kepunahan Kaharingan. Pasalnya, kepercayaan itu dekat dengan perlakuan terhadap alam, mulai merambah hutan, berhuma, berburu, dan upacara adat. (Denny Susanto/N-2)
PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) akan membentuk dan merekrut 50 orang relawan Komando Cadangan (Komcad) guna memperbesar dan memperkuat kemampuan TNI.
Inovasi ini bertujuan mempercepat distribusi bahan pokok ke wilayah yang mengalami kendala pasokan atau lonjakan harga signifikan.
Peristiwa terbakarnya batubara di kawasan tambang KM 171, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu menjadi bukti buruknya tata kelola pertambangan di Provinsi Kalimantan Selatan.
BNPB menyebur memasuki awal Maret, bencana hidrometeorologi masih mendominasi di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Jawa Timur (Jatim).
Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan menyatakan bahwa paparan dan usulan yang disampaikan oleh Anggota DPD RI Muhammad Hidayattollah menjadi catatan dan atensi bagi kementerian.
KEMENTERIAN Lingkungan Hidup akan melakukan audit lingkungan terhadap 182 perusahaan tambang dan sawit yang dinilai menjadi penyebab kerusakan lingkungan dan bencana banjir
TOKOH suku Dayak, Panglima Jilah, mempertanyakan nasib pembangunan Dayak Center di Ibu Kota Nusantara (IKN), yang pernah dijanjikan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Pada kesempatan tersebut, Agustiar menegaskan komitmen Pemprov Kalteng untuk melindungi eksistensi dan martabat Masyarakat Adat Dayak sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan Kalimantan.
Andi Rumbrar menunjukkan arti keadilan sosial dengan mengabdi untuk kesetaraan pendidikan anak-anak suku Wano di pedalaman Papua.
Dayak Lebo ini juga dikenal sebagai penjaga hutan.Suku ini hidup dengan nomaden atau berpindah-pindah dan utamanya mendiami sebuah hutan.
Kelestarian desa adat ini bisa menjadi sumber pengetahuan bagi wisatawan baik lokal maupun intenasional untuk mengenal budaya dan tradisi Suku Dayak di Kalimantan
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan, dari Sabang hingga Merauk
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved