Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KEGIATAN belajar mengajar di Tanah Air berubah drastis kala dilanda wabah covid-19. Pemerintah pun memutuskan untuk melakukan kegiatan pembelajaran dari rumah dengan model daring.
Namun, sejumlah guru sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, lebih memilih mendatangi siswa ke rumahnya daripada menggunakan pembelajaran jarak jauh model daring.
Alasannya, karena banyak siswa tidak mempunyai laptop atau ponsel pintar. Jaringan internet pun kadang susah, sehingga proses belajar daring dikhawatirkan tidak bisa maksimal.
"Karena itu sebagai guru kelas, saya memilih mendatangi siswa di rumah. Proses belajar berlangsung di rumah atau di musala," kata guru SDN Kedung Waduk 1, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Sri Sumarsih.
Dia tidak melakukan sendiri, kolega sesama guru SDN Kedung Waduk 1 pun juga melalukan hal sama, yakni jemput bola seperti mendekat ke rumah siswa sejak tahun ajaran baru 2020/2021 dimulai di tengah pandemi covid-19.
Proses pembelajaran numpang di rumah warga atau di musala, dengan menerapkan protokol kesehatan, menggunakan masker dan menjaga jarak. Sekali mengajar hanya berisi satu kelompok, terdiri 5-6 siswa. Lama proses belajar 2 - 3 jam, dan dilaksanakan 2 - 3 hari dalam seminggu.
"Sesuai protokol kesehatan, tiap kelompok hanya 5-6 siswa, begitu selesai pindah ke kelompok siswa yang ada di kampung lain. Jadi putar tiap hari, ya harus sabar," imbuh dia.
Baca juga: Tidak Ada Internet, Guru Bentuk Kelompok Belajar di Rumah
Dia berharap, dengan menggunakan kurikulum 13 atau kurikulum tematik, hasilnya akan lebih efektif. Sri Sumarsih memiliki 24 siswa yang dibagi dalam lima kelompok.
"Dengan jumlah siswa yang sedikit, mudah mudahan hasilnya bisa efektif," tuturnya.
Para siswa cukup senang dihampiri guru di rumah atau kampungnya, kemudian belajar di musala atau menumpang di rumah warga. Namun, mereka mengaku lebih senang proses pembelajaran di sekolah, karena bisa bertemua banyak teman dan senda gurau.
"Entah sampai kapan pandemi bisa berakhir. Tetapi kita tetap sabar dengan model jemput bola ini, biar siswa tetap bisa belajar dengan cara efektif," pungkasnya.(OL-5)
13 keluarga yang berada di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Sayung, Demak saat ini harus hidup di atas rumah panggung karena rob sudah menjadi langganan.
BUDAYA sekolah aman dan nyaman merupakan sebuah kebijakan baru kementerian yang mengurusi pendidikan dasar dan menengah.
Ajang kompetisi olahraga dan seni antar SMA bertajuk SkyBattle 2026 yang digelar oleh SMA Labschool Kebayoran, Jakarta, resmi berakhir.
LEDAKAN teknologi digital telah menyusup ke setiap sudut kehidupan anak-anak Indonesia, membawa kemudahan sekaligus ancaman diam-diam: krisis gaya hidup pasif.
Prioritas utama dari kebijakan ini adalah untuk menjamin kesehatan serta keselamatan para peserta didik di tengah risiko bencana hidrometeorologi.
Dalam rangka penanganan bencana Sumatra, Abdul Mu’ti menekankan bahwa Kemendikdasmen memerlukan anggaran sebesar Rp5,03 triliun.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
DALAM beberapa minggu terakhir, rumah sakit dan klinik di wilayah Jabodetabek mencatat peningkatan signifikan pasien dengan gejala flu yang mirip covid-19.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved