Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
Ratusan orang nelayan yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Bengkulu tidak melaut akibat cuaca ekstrem selama sepekan terakhir. Tujuh kabupaten/kota yang dimaksud adalah Mukomuko, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Kaut, Bengkulu Selatan, Seluma, dan Kota Bengkulu
Buyung, 40, nelayan di Desa Pondok Kelapa, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah mengatakan dirinya sudah sepekan terakhir tidak melaut karena gelombang tinggi.
"Nelayan sudah satu pekan terakhir tidak turun melaut mencari ikan karena cuaca buruk. Gelombang di tengah laut juga tinggi akibat cuaca yang tak menentu," katanya.
Jika memaksakan untuk melaut, lanjutnya, akan membahayakan terhadap keselamatan. Padahal, dalam kondisi seperti ini, nelayan juga jarang mendapat ikan.
Saat ini banyak nelayan yang menganggur. Lalu sambil menunggu cuaca kembali baik, sebagian nelayan memperbaiki alat tangkap atau
menjadi buruh bangunan.
Baca juga: Nelayan di Malang Berhenti Melaut dan Geser ke Pacitan
Bujang, 32, nelayan di Kelurahan Malabero, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu mengatakan dengan kondisi cuaca yang tak menentu sebagian nelayan lebih memilih untuk menepikan perahunya.
"Sumber mata pencarian hidup sehari-hari nelayan hanya menangkap ikan. Namun, dengan kondisi seperti ini maka penghasilan tidak ada karena kami hanya menganggur saja di rumah," imbuhnya.
Untuk sekali turun melaut, kata Bujang, dibutuhkan biaya Rp150 ribu untuk BBM dan operasional. Sekali melaut, ada tiga orang nelayan yang bekerja untuk membantu menjaring karena jaring ikan yang dibawa mencapai belasan jaring.
Kepala Stasiun Klimatologi Bengkulu Kukuh Ribudiyanto mengatakan prakiraan cuaca hujan dan angin kencang saat ini akan berlangsung sampai bulan April mendatang.
"Saat ini, BMKG telah mengimbau kepada nelayan dan masyarakat di Provinsi Bengkulu, agar selalu waspada dan terutama para nelayan untuk sementara tidak melaut. (OL-14)
Pengurangan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dikhawatirkan berdampak pada sejumlah sektor.
PENGEMBANGAN sektor energi di wilayah pesisir Jawa Timur harus memiliki roadmap (peta jalan) yang terencana baik dengan mengakomodasi kepentingan dan kebermanfaatannya bagi nelayan.
Harga ikan di Pasar Tradisional Naikoten 1 dan Pasar Ikan Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur mengalami kenaikan signifikan akibat cuaca buruk.
Pemkot Semarang mengalokasikan anggaran sekitar Rp87 juta dari pengalihan beberapa kegiatan di Dinas Perikanan untuk mendukung program tersebut.
Angin kencang yang bertiup saat ini kecepatan naik dua kali lipat dibandingkan kondisi normal. Jika memaksakan diri untuk melaut bisa mengancam keselamatan mereka.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menegaskan bahwa kemandirian pangan nasional tidak akan tercapai maksimal tanpa melibatkan potensi maritim secara progresif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved