Selasa 10 Desember 2019, 21:35 WIB

Rumah Dirut BPR Indramayu Digeledah terkait Kasus Suap Bupati

Antara | Nusantara
Rumah Dirut BPR Indramayu Digeledah terkait Kasus Suap Bupati

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
juru bicara KPK, Febri Diansyah,

 

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri sumber dana suap kepada Bupati Indramayu nonaktif Supendi (SP) hasil penggeledahan di kantor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Indramayu dan rumah Direktur Utama BPR Indramayu, Selasa (10/12).

"Dari lokasi penggeledahan disita sejumlah dokumen keuangan terkait dengan dugaan sumber dana suap terhadap Bupati Indramayu," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa.  

Diberitakan, KPK pada Selasa menggeledah dua lokasi dalam penyidikan kasus suap terkait pengaturan proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Tahun 2019. Dua lokasi yang digeledah, yakni kantor BPR Indramayu di Jalan S Parman Indramayu dan rumah Dirut BPR Indramayu di Jalan Yos Sudarosi Indramayu.

KPK, Selasa juga, memanggil dua saksi dalam penyidikan kasus itu untuk tersangka Supendi, yaitu Kasat Reskrim Polres Indramayu AKP Suseno Adi Wibowo dan Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah Abdillah. Namun, keduanya tidak memenuhi panggilan penyidik KPK.   

"KPK masih berkoordinasi dengan Polri dan Kejaksaan untuk kebutuhan melakukan pemeriksaan terhadap dua saksi tersebut," ucap Febri.


Baca juga: Soal Pengaturan Proyek, KPK Geledah Kantor BPR Indramayu


KPK total telah menetapkan empat tersangka terkait kasus tersebut, yaitu Supendi, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Indramayu Omarsyah (OMS), Kepala Bidang Jalan di Dinas PUPR Kabupaten Indramayu, Wempy Triyono (WT), dan Carsa AS (CAS) dari unsur swasta.  

Dalam kasus tersebut, Supendi, Omarsyah, dan Wempy diduga sebagai pihak penerima suap. Sedangkan sebagai pemberi, yakni Carsa. Pemberian yang dilakukan Carsa pada Supendi dan pejabat Dinas PUPR diduga merupakan bagian dari komitmen fee 5 sampai 7 persen dari nilai proyek.  

Supendi diduga menerima total Rp200 juta, yaitu Mei 2019 sejumlah Rp100 juta yang digunakan untuk THR, 14 Oktober 2019 sejumlah Rp100 juta yang digunakan untuk pembayaran dalang acara wayang kulit dan pembayaran gadai sawah.

Kedua, Omarsyah diduga menerima uang total Rp350 juta dan sepeda dengan rincian dua kali pada Juli 2019 sejumlah Rp150 juta, dua kali pada September 2019 sejumlah Rp200 juta, dan sepeda merek NEO dengan harga sekitar Rp20 juta.  

Wempy diduga menerima Rp560 juta selama lima kali pada Agustus dan Oktober 2019. Uang yang diterima Omarsyah dan Wempy diduga juga diperuntukkan untuk kepentingan Supendi, pengurusan pengamanan proyek, dan kepentingan sendiri. (OL-1)

Baca Juga

DOK MI

Pasien Covid-19 di Tasikmalaya Masuk Daftar Tunggu Perawatan

👤Kristiadi 🕔Rabu 02 Desember 2020, 17:41 WIB
Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Tasikmalaya, Muhammad Yusuf mengatakan saat ini, ada 30 pasien positif Covid-19 masuk dalam daftar tunggu...
MI/Ignas Kunda

Pariwisata di Flores Bisa Bangun dari Desa

👤Ignas Kunda 🕔Rabu 02 Desember 2020, 17:35 WIB
Kegiatan itu menyasar pelaku wisata pada desa-desa wisata di tiga kabupaten yakni Nagekeo, Ende, dan...
MI/Alexander P Taum

BNPB Serahkan Dana untuk Penanganan Pengungsi Erupsi Ile Lewotolok

👤Alexander P. Taum 🕔Rabu 02 Desember 2020, 17:10 WIB
KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal, Doni Monardo, Rabu (2/11/2020), menyerahkan sumbangan kemanusiaan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya