Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
LEBIH dari 6 juta obat dari ratusan jenis obat kadaluwarsa menumpuk dan berserakan di gudang Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur, NTT. Jutaan obat ini merupakan jenis obat salep, injeksi dan tablet.
Obat kadaluwarsa ini sudah 11 tahun berada di gudang. Kepala Dinas Kesehatan Flotim, dr Ogi Silimalar melalui Penanggungjawab gudang farmasi di Dinas Kesehatan, Agatha Lipat Manggan saat dikonfirmasi Senin (28/10), membenarkan ada enam juta obat yang kini menumpuk di gudang dan sudah lewat masa berlakunya.
Jutaan obat yang mubazir ini berdasarkan rekapan dari 2014 hingga 2018. Pemusnahan obat terakhir kali pada 2008. Hingga kini tidak pernah ada tindakan pemusnahan obat.
"Pemusnahan obat terakhir kali 2008, dan setelah itu tidak pernah direkap lagi. Baru pada 2014, kami mulai merekap dan bisa dihitung sangat banyak obat yang mubazir dan tidak bisa digunakan. Hanya tersimpan digundangkan. Jika diuangkan, totalnya sekitar Rp800 juta lebih. Tepatnya Rp806.723.925," kata Agatha.
Dinas Kesehatan berencana akan memusnahkan obat-obat tersebut namun terkendala anggaran yang belum direalisasikan sampai sekarang.
Sekda Flores Timur, Paulus Igo Geroda saat dikonfirmasi mengakui, keterbatasan dana menjadi hambatan untuk melakukan pemusnahan. Untuk memusnahkan obat-obatan itu harus dengan alat khusus dan memenuhi standar kesehatan.
baca juga: Merawat Brebes di Perantauan Dengan Pentas Seni
"Pemerintah memang berencana untuk melakukan pemusnahan, tetapi karena anggaran terbatas dan tidak cukup. Tahun 2019 ini memang sudah disiapkan anggaran, tetapi saat mau dilakukan pemusnahan ternyata anggaran tersebut tidak mencukupi. Anggaran yang disediakan Rp200 juta. Itu tidak mencukupi sehingga obat-obat tersebut masih tersimpan di gudang," kata Paulus.
Rencananya pada 2020 akan dianggarkan dengan menambah nilai anggarannya. Alat pemusnah obat ini juga bisa dipasang di rumah sakit. (OL-3)
Satu dari tiga pasien mampu mencapai penurunan berat badan lebih dari 20%, sebuah angka yang selama ini identik dengan hasil terapi suntikan mingguan.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial dinilai terancam setelah perubahan regulasi paten terbaru.
Lucia menjelaskan ketika terjadi bencana banyak orang yang terkena luka bisa karena seng, paku, dan sebagainya maka diberikan serum anti tetanus, untuk mencegah infeksi.
Obat dapat berasal dari bahan kimia, tumbuhan, maupun hewan, dan biasanya digunakan dengan dosis tertentu agar aman dan efektif.
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) mengadakan seminar “Peran Strategis GPFI dalam Menegaskan Prinsip 4K untuk Menunjang Kesehatan Nasional”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved