Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 1.067 jiwa atau 332 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh hingga Kamis (24/10) malam masih terdampak banjir akibat meluapnya aliran sungai di kawasan pedalaman tersebut dengan ketinggian air mencapa 50 sentimeter.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Aceh Barat, Bismi, Kamis malam, di Meulaboh, menjelaskan, sebaran warga yang terdampak bencana alam ini masing-masing Desa Blang Luah (145 jiwa/44 kepala keluarga), Gunong Panyang (48 jiwa/17 kepala keluarga), Rambong Pinto (84 jiwa/24 kepala keluarga), Alue Seuralen (45 jiwa/12 kepala keluarga), Tuwi Eumpeuk (91 jiwa/35 kepala keluarga).
Kemudian Desa Alue Meuganda (89 jiwa/25 kepala keluarga), Gampong Baro KB (78 jiwa/20 kepala keluarga), Blang Makmue (95 jiwa/29 kepala keluarga), Buket Meugajah (185 jiwa/65 kepala keluarga), Blang Dalam (191 jiwa/57 kepala keluarga) serta Teumiket Ranom ((16 jiwa/4 kepala keluarga).
Banjir juga melanda tiga desa lainnya yakni Desa Blang Luah, Alue Leuhob, serta Napai di Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat.
Baca juga: Kapal Wisatawan Tenggelam di Perairan Alor, 12 Turis Selamat
"Sejauh ini kami masih melakukan pendataan terhadap warga yang terdampak, sekaligus memastikan langkah selanjutnya untuk membantu
masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan selama banjir," kata Bismi.
Menurutnya, meski tercatat jumlah warga di kawasan pedalaman di daerah itu sudah terdampak banjir, namun sebagian besar masyarakat di daerah itu masih bertahan di rumah masing-masing dan belum ada warga yang mengungsi.
Bencana alam ini terjadi akibat tingginya intensitas hujan yang mengguyur Kabupaten Aceh Barat sejak dua pekan terakhir sehingga menyebabkan meluapnya aliran air sungai di daerah tersebut.
Pihaknya juga masih melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat.
"Untuk memastikan penanganan terhadap masyarakat apabila sewaktu-waktu ketinggiar air di pemukiman warga mengalami peningkatan," demikian Bismi. (OL-1)
Ditambah lagi cuaca ekstrem seperti angin kencang dan hujan deras masih sering menghantui kawasan provinsi di ujung barat Indonesia itu.
Perubahan jalur jelajah akibat bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor juga diduga kuat mengubah pola pergerakan serta habitat alami gajah.
Diduga akibat tersengat kawat yang dialiri arus listrik bertegangan tinggi. Saat ditemukan, belalai gajah masih dalam kondisi terlilit kawat listrik.
Tahun 2024 Study Abroad Aide menempatkan USK tersebut di tangga 22 persen kampus terbaik dunia kategori universitas tujuan mahasiswa internasional.
BRIN menjelaskan lubang besar di Aceh Tengah bukan fenomena sinkhole, melainkan longsoran geologi akibat batuan tufa rapuh, hujan lebat, dan faktor gempa bumi.
Seorang petani di Bener Meriah, Aceh, meninggal dunia setelah diserang kawanan gajah liar saat mencoba mengusir satwa tersebut dari kebunnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved