Senin 07 Oktober 2019, 08:36 WIB

Gempa Susulan Terus Dirasakan Warga Maluku

mediaindonesia.com | Nusantara
Gempa Susulan Terus Dirasakan Warga Maluku

Dok BMKG
Para penyintas gempa Maluku

 

GEMPA susulan masih terus dirasakan warga Maluku pascagempa M 6,5 yang terjadi pada 26 September lalu. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Senin (7/10) pagi pukul 03.00 WIT, lebih dari 1.000 gempa susulan terjadi.

"BMKG mengidentifikasi 1.149 kali gempa susulan dan 122 di antaranya dirasakan warga," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo

Agus menambahkan, pada Senin (7/10) dini hari pukul 02.15 WIB, gempa M 3,4 dengan kedalaman 10 km masih terjadi dan dirasakan warga.

"Pusat gempa tersebut berada di laut sekitar 24 km timur laut Ambon. Namun dilihat dari rangkaian gempa susulan, frekuensi cenderung turun," imbuhnya.

Baca juga: Tetap Waspada di Musim Kemarau

Data BPBD Provinsi Maluku per 6 Oktober 2019, pukul 18.00 WIT, mencatat total penyintas berjumlah 134.600 jiwa, dengan rincian Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) 90.833 jiwa, Seram Bagian Barat (SBB) 37.787 dan Kota Ambon 5.980. Sementara itu, korban meninggal dunia berjumlah 37 jiwa.

Sementara itu, jumlah kerusakan rumah mencapai 6.344 unit dengan tingkat kerusakan berbeda. Wilayah Kabupaten Malteng, rumah rusak berat (RB) 724 unit, SBB 298 dan Ambon 251. Rumah rusak sedang (RS) di wilayah Kabupaten Malteng mencapai 1.104 unit, SBB 469 dan Ambon 253, sedangkan rusak ringan (RR) di wilayah Malteng 2.238, Ambon 654 dan SBB 353.

Pos Komando (Posko) Penanganan Darurat Bencana Gempa di setiap wilayah terdampak masih melakukan upaya penanganan darurat di lapangan.

Beberapa tantangan masih dihadapi personel yang bertugas di masing-masing kabupaten/kota. Sebaran titik penyintas tidak terfokus pada kelompok-kelompok besar sehingga menyulitkan tenaga personel kesehatan dalam memberikan pelayanan medis.

Di sisi lain, kebutuhan personel kesehatan masih sangat dibutuhkan, seperti dokter umum, bidan dan perawat, apoteker dan tenaga psikososial.

Penanganan darurat di sektor kesehatan tidak hanya memberikan pelayanan medis tetapi juga memastikan gizi terpenuhi pada kelompok rentan, kesehatan reproduksi, distribusi obat dan pencegahan serta pengendalian penyakit.

Di sisi lain, penangana juga dilakukan di sektor lintas seperti pendidikan, penanganan dan perlindungan penyintas, ekonomi, sarana dan prasarana serta logistik.  

Sehubungan dengan penanganan darurat yang berakhir pada 9 Oktober nanti, BNPB masih terus memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah setempat dan memastikan pelayanan kepada warga terdampak dilakukan dengan baik. (RO/OL-2)

 

Baca Juga

MI/Lilik Darmawan

Perisai Negara Jangkau Pelosok Hutan Lindungi Penyadap Pinus

👤Lilik Darmawan 🕔Jumat 03 Desember 2021, 08:55 WIB
MENJANGKAU peserta harus ke lapangan untuk memberitahukan bahwa menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan itu sangat banyak...
dok.Ant

Terjerat Kasus Hukum, Jerinx Tetap Jadi Duta Narkoba Bali

👤Arnoldus Dhae 🕔Jumat 03 Desember 2021, 08:30 WIB
JERINX tetap menjadi duta Narkoba Bali dan tidak ada hubungannya dengan kasus hukum yang...
dok.Ant

Inflasi di DIY Naik Namun Masih Terkendali

👤Agus Utantoro 🕔Jumat 03 Desember 2021, 08:15 WIB
INFLASI di Daerah Istimewa Yogyakarta pada November 2021 ini mengalami kenaikan dibanding dengan bulan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya