Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
DARIM, 49 bergegas menyalakan genset yang ada di pondokan. Ia kemudian menyalakan saklar listrik. Kemudian dia menyalakan 13 lampu sentral yang diarahkan dari pondokan ke tepi laut. Darim kemudian mengecek permukaan air laut di sekitar pondokan. Ia bisa melihat di sana terkumpul ikan-ikan dan cumi-cumi. Ia kemudian mematikan lampu-lampu pijar.
Di luar pondok, rekannya Wakraf, Angga, dan Erwin sudah menunggu untuk siap-siap mengambil ikan-ikan itu dengan jaring. Mereka kemudian mengangkat jaring yang sudah ditebar di laut dan ditarik dengan menggulung tuas tali. Mereka sudah biasa mencari ikan dengan menggunakan bagan Apung di perairan Rebu Kabupaten Bangka, berjarak kurang lebih 10 mil dari bibir pantai.
"Setiap hari kami berangkat dengan perahu tempel sekitar pukul 15.00 WIB. Lama perjalanan dari pesisir pantai 30 menit," kata Darim. Kamis (4/10).
Biasanya setelah tiba di Bagan Apung berukuran 12 meter x 12 meter, mereka memancing. Saat mulai gelap, berempat memasang jaring di bawah bagan dengan kedalaman 15-20 meter. Kemudian lampu-lampu pijar dinyalakan. Ada 28 lampu pijar dengan rincian, 13 lampu di dalam pondok dan sisanya dipasang di perairan.
"Lampu-lampu inilah yang membuat ikan tertarik untuk mendekat dan berkumpul. Sehingga memudahkan kami mendapatkan ikan," terang Darim.
Setiap dua jam sekali mereka mengangkat jaring yang sudah berisi ikan. Dan ikan yang diperoleh juga bermacam-macam. Kalau cuaca bagus sekali angkat bisa memenuhi 10 ember. Namun pas musim paceklik, perolehan ikan hanya cukup untuk satu ember.
Darim menjelaskan untuk membuat satu bagan apung setidaknya butuh Rp50 an juta belum termasuk perahu dan mesinya.
"Total biayanya bisa habis Rp80 juta. Itu pun perahu dan mesinya bekas 40 PK," aku dia.
Sedangkan biaya untuk melaut, termasuk makan, minum, BBM sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Itu ditanggung berempat.
baca juga: Lima PLTS Siap Menerangi Desa-Desa di NTT
Rata-rata pendapatan sehari dari berjualan ikan mencapai Rp2 juta dan dibagi berempat. Saat ini ada belasan bagan apung di perairan Rebu. Bagan itu pun bisa dipindah-pindah. Memancing ikan dengan lampu pijar lebih ramah lingkungan daripada dengan kapal trawl atau bom ikan. Sebagai perantau dari Jawa, Darim dan rekan-rekannya sudah menjadi nelayan sejak kecil. Bahkan mereka juga pernah ikut nelayan lain yang menangkap dengan cara mengebom.
"Saya kapok melakukan bom ikan karena dua jari tangan saya rusak," ungkapnya. (OL-3)
SEORANG nelayan Petaling Kabupaten Bangka diterkam buaya saat memancing ikan di sungai Limbung, Selasa (10/2) malam. Korban ditemukan menyangkut di jaring ikan, Rabu (11/2) pagi.
Pemkab Indramayu mengalokasikan pembayaran premi asuransi untuk 1.000 nelayan.
Cuaca ekstrem tersebut berupa hujan deras yang diikuti dengan angin kencang. Kondisi tersebut bisa menimbulkan terjadinya gelombang tinggi yang berbahaya untuk nelayan
Kecurigaan nelayan muncul ketika RMM menolak memberikan uang panjar untuk pembelian bahan bakar kapal dengan alasan pembayaran akan dilakukan setelah kegiatan memancing selesai.
Kondisi tersebut menyebabkan kapal yang baru kembali melaut harus menunggu hingga delapan jam hanya untuk menurunkan hasil tangkapan.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto menyoroti kondisi overkapasitas kapal di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved