Headline

Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.

Eti masih Berharap Muridnya tak lagi Belajar di Lantai

Kristiadi
18/7/2019 08:50
Eti masih Berharap Muridnya tak lagi Belajar di Lantai
Siswa kelas dua Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cikadongdong mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di lantai ruang perpustakaan.(MI/Kristiadi)

SUDAH 20 tahun lebih Eti Kurniasih setia menanti janji pemerintah daerah untuk menambah bangunan ruang kelas baru di sekolah dasar di Kampung Cikadongdong, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Akan tetapi, penantian Kepala SD Negeri Cikadongdong  itu tak kunjung terpenuhi. Entah sampai kapan Eti harus menunggu agar anak didiknya terutama murid-murid kelas dua sekolah itu tidak belajar di ruang perpustakaan tanpa meja maupun kursi.

"Kami kekurangan kelas. Para murid belajar di perpustakaan berukuran 9x7 meter, cukup di lantai. Sudah sejak 28 tahun lalu kami mengajukan proposal ke dinas pendidikan termasuk ke pemerintah daerah mohon dibuatkan ruang kelas baru. Namun, permintaan kami tidak pernah ditanggapi. Janji manis Bupati Tasikmalaya ketika itu, Uu Ruzhanul Ulum, yang mau membangunkan ruang kelas baru juga tidak pernah terlaksana," kata Eti kepada Media Indonesia, kemarin.

Ferbi Alis Muhamad, siswa kelas 2 SD Negeri Cikadongdong, pun mengeluhkan, dia dan teman-teman sekelasnya tidak tahan belajar di lantai karena tanpa karpet maupun tikar sebagai alas duduk mereka.

"Murid-murid sering tidak bisa konsentrasi belajar karena ruangan enggak nyaman. Kami meminta Pak Jokowi, pak menteri, dan bupati harus secepatnya bisa mendirikan bangunan. Saya sering masuk angin berada di ruangan perpustakaan karena kedinginan dan ruangan sempit," keluh Ferbi yang diiyakan oleh beberapa teman sekelasnya.

Eti mengakui kurangnya ruangan kelas di sekolahnya telah berimbas pada minimnya jumlah siswa di SD Negeri Cikadongdong. Selain dampak sistem zonasi dalam penerimaan murid baru, banyak orangtua yang enggan menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut karena faktor kekurangan ruang belajar.

"Saat ini sekolah berupaya untuk menyelenggarakan sekolah pagi dan siang agar semua anak didik bisa menikmati ruangan kelas. Itu upaya kami untuk menyiasati agar tidak ada lagi murid yang belajar di lantai perpustakaan," ujar Eti.

Ke depan, Eti masih berharap proposal pembangunan ruang kelas baru yang pernah dilayangkan kepada dinas pendidikan dan pemerintah daerah puluhan tahun silam mendapat respons yang menggembirakan.

Harapan Eti dan para guru tersebut sudah tentu menjadi harapan para orangtua murid SD Negeri Cikadongdong yang telah lama merasa prihatin dengan fasilitas bangunan sekolah di kampung mereka.

"Ironis sekali, di saat pemerintah banyak melakukan pembangunan fisik di mana-mana, tetapi ada generasi penerus bangsa terutama anak didik kami yang terpaksa menggunakan ruang perpustakaan untuk belajar. Bahkan, dinas pendidikan pun melarang kami untuk menggunakan kursi dan meja di ruangan tersebut. Lebih baik dikosongkan saja kata mereka," ungkap Eti dengan raut wajah sedih. (Kristiadi/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya