Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SUDAH dua pekan terakhir cuaca buruk berupa hujan lebat diiringi petir dan angin kencang kerap menghampiri berbagai daerah di Provinsi Sumatra Utara.
Konvergensi belokan angin dan pemanasan suhu laut dianggap menjadi penyebab.
Mulai sekitar pertengahan Maret, rilis cuaca Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan berisi prakiraan terjadinya hujan lebat, petir dan angin kencang. Prakiraan tersebut sering menjadi kenyataan dan masih berlangsung hingga memasuki bulan April.
"Kondisi cuaca buruk dan angin kencang melanda Sumut dalam beberapa waktu terakhir ini," kata Kepala Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah I Medan, Syahnan, Selasa (2/4).
Menurut Syahnan, kondisi itu disebabkan wilayah Sumut terkena belokan angin dan konvergensi sehingga massa udara basah berkumpul di wilayah ini.
Situasi tersebut mengakibatkan pertumbuhan awan menjadi lebih banyak sehingga terjadi hujan dengan intrensitas sedang hingga lebat disertai kilat dan petir serta angin kencang.
Hujan lebat disertai petir dan angin kencang terjadi lepas tengah hari sampai lewat tengah malam. Sedangkan pada pagi hingga tengah hari suhu panas menerpa dan relatif lebih panas dari biasanya.
Namun demikian, kondisi cuaca tersebut belum berdampak besar terhadap aktivitas transportasi, termasuk penerbangan. Otoritas bandara Kualanamu belum melaporkan adanya gangguan jadwal penerbangan akibat cuaca.
Begitu juga dengan dampak kondisi cuaca tersebut terhadap aktivitas masyarakat. BPBD tingkat provinsi dan kabupaten/kota belum ada menyatakan terjadinya kerusakan atau masyarakat yang menjadi korban akibat hujan lebat disertai petir dan angin kencang di wilayah Sumut.
Baca juga: BMKG Luncurkan Sistem Pengamatan Cuaca untuk Penerbangan
Terpisah, Peneliti Hutan Rakyat Institute (HaRI), Saurlin Siagian, meyakini kondisi cuaca tersebut juga dipengaruhi pemanasan suhu laut. Peningkatan 1 derajat suhu laut akan berimplikasi terhadap badai karena 3/4 permukaan bumi terdiri dari lautan.
"Satu derajat saja terjadi peningkatan suhu laut dapat memicu terjadinya gelombang besar baik di laut itu sendiri maupun di udara," paparnya.
Peningkatan suhu air laut bahkan dapat mengubah siklus musim sekaligus mengubah pola badai. Saat ini saja sudah kerap terjadi badai di berbagai daerah di Indonesia dan sampai sekarang belum ada satu pun teknologi yang mampu menghadapinya.
Belum lama ini BMKG menyatakan fenomena Equinox sedang menghampiri Indonesia. Equinox merupakan salah satu fenomena astronomi di mana Matahari melintasi garis Khatulistiwa dan secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yaitu pada 21 Maret dan 23 September.
Saat fenomena ini berlangsung, matahari dengan bumi memiliki jarak paling dekat dan konsekuensinya, wilayah tropis sekitar Ekuator akan mendapatkan penyinaran matahari maksimum.
Secara umum, rata-rata suhu maksimum di wilayah Indonesia berada dalam kisaran 32-36 derajat celcius dan suhu maksimum tertinggi sempat terjadi di pulau Sumatra yang mencapai 37,6 derajat pada akhir Maret lalu. (OL-3)
Kemeninves sampai Danantara diyakini bisa menjadi jalan keluar terbaik untuk mengelola lahan perkebunan sampai pertambangan ini.
Barita mengatakan upaya hukum ini diharapkan dapat memberikan kejelasan terhadap penyebab bencana di Sumatra.
Pembangunan huntara dilakukan di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatra. Rinciannya, sebanyak 16.282 unit huntara dibangun di Aceh, 947 unit di Sumatra Utara, dan 618 unit di Sumatra Barat.
Negara harus memastikan bahwa pencabutan perizinan berusaha di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Suhu udara rata-rata 11 hingga 32 derajat Celcius dengan kelembaban udara 56-99 persen dan angin bertiup dari Selatan hingga Barat dengan kecepatan 3 hingga 7 km per jam.
Merujuk dari terakhir pemerintah, bencana banjir dan longsor akhir November 2025 lalu menyebabkan 208.693 unit rumah di Aceh rusak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved