Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Tujuh Bumdes di NTT Terima Bantuan Modal Usaha

Palce Amalo
21/1/2019 12:00
Tujuh Bumdes di NTT Terima Bantuan Modal Usaha
Sungai di antara wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) terlihat mengering akibat kemarau yang mengakibatkan sumber-sumber air mengering, beberapa waktu lalu.(MI/PALCE AMALO)

TUJUH Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di Kabupaten Timor Tengah Selatan,  Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima bantuan modal pengembangan unit usaha  dari Direktorat Pembangunan Daerah, Kementerian  Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT).

Tujuh Bumdes tersebut terdapat di tujuh desa yakni OeEkam, Ajaobaki, Hane, Boking, Loli, Bena, dan Meuleum, masing-masing menerima bantuan Rp50 juta. Bantuan modal tersebut disalurkan saat kunjungan kerja (Kunker) Spesifik Komisi V DPR RI di desa-desa tersebut akhir pekan lalu.

"Saya membawa banyak rombongan dari Jalarta untuk melihat langsung kondisi Kabupaten Timor Tengah Selatan seperti di Desa OeEkam. Setidaknya kami datang dan bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat di desa ini," kata Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemy Francis, Senin (21/1).

Fary yang memimpin rombongan kegiatan kunker mengaakan, kepala desa setempat menjelaskan beragam persoalan yang dihadapi desa seperti di Desa OeEkam, Kecamatan Amanuban Tengah.

"Di OeEkam dari kekurangan air, rumah tidak layak huni, belum adanya penerangan listrik, kekurangan modal usaha bagi Bumdes serta masalah longsoran di sisi jembatan yang sangat berpengaruh terhadap akses warga," ujarnya.

 

Baca juga: Geliat Pemkab Manggarai Atasi Sampah Kota Ruteng belum Terlihat

 

Karena itu, pada kesempatan tersebut, Kementerian PUPR langsung mengalokasikan pembangunan rumah bagi masyarakat setempat sebanayk 80 unit. Adapun pihak balai sungai akan melakukan survei untuk pembangunan sumur bor dan embung.

"Saya mendengar semua informasi dan masukan dari warga desa. Bisa membantu mengatasi persoalan mereka adalah hal yang sangat membahagiakan. Saya meminta para mitra untuk meresponnya. Syukurlah bahwa kehadiran kami membawa sedikit berkat bagi mereka," ujarnya.

Terkait jembatan, menurut Fary, perlu dicari skim yang lain karena itu ruas jalan provinsi yang tidak bisa diintervensi APBN.

Selain itu, rombongan Komisi V DPR RI bersama mitra juga mengunjungi Desa Hane, Kecamatan Batu Putih dan mampir di Kelompok Nekmese Fetomone  yakni komunitas seni pengrajin ukuran kayu dan batu yang berdiri sejak  1993.

Hasil kerajinan kelompok yang beranggota 17 orang ini sudah dipasarkan ke Prancis dan Australia. Anggota DPR mendrong agar hasil-hasil kerajinan kelompok ini bisa dipasarkan melalui Bumdes.

"Kelompok Nekmese Fetomone masih terus eksis dengan peralatan seadanya. Untuk memberikan dorongan kepada kelompok pengrajin ini, kementerian desa akan memberikan bantuan peralatan kerajinan yang mereka butuhkan, sekaligus memberikan dana stimulans untuk Bumdes desa Hane Sebesar Rp50 juta," ujarnya. (OL-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya