Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Ada TPS Horor di Semarang

Akhmad Safuan
27/6/2018 07:58
Ada TPS Horor di Semarang
(ANTARA/R. Rekotomo)

TEMPAT pemungutan suara (TPS) pada umumnya dibuat dengan suasana yang menyenangkan dan menghibur. Diharapkan suasana indah dan menyenangkan tersebut menjadikan warga tertarik untuk menyalurkan hak pilih mereka pada pemilu yang sedang berlangsung.

Namun, berbeda dengan TPS 7 yang terletak di RT 07 / RW 03, Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah. TPS itu jauh dari suasana menyenangkan dan keindahan. Sebaliknya yang terlihat ialah suasana menyeramkan dan menakutkan termasuk petugas PPS juga mengenakan kostum yang membuat bulu kuduk berdiri.

Di TPS yang terletak di areal pemakaman terbesar di Kota Semarang itu, suasana seram dan menakutkan sudah terasa ketika mendekati lokasi. Selain disambut petugas berkostum berbagai hantu, juga ketika memasuki di dalam ruang tunggu sudah harus menyaksikan topeng Leak Bali dan di sudut ada menekin yang didandani pocong berikut keranda serta miniatur kuburan.

"Keranda itu asli dan baru tiga hari lalu untuk mengangkat jenasah warga di sini yang meninggal dunia," kata Cahyo, warga RT 07 / RW 03, Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Warga, ungkap warga lainnya tidak keberatan dengan konsep horor di TPS 7 ini karena warga memang sudah terbiasa menyaksikan kuburan setiap hari dan juga prosesi pemakaman yang juga berlangsung hampir setiap hari.

Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) TPS 7 Bruno Krisyanto mengatakan konsep pembangunan TPS ini sengaja dibuat berbeda dengan TPS lainnya. Hal itu agar lebih unik dengan suasana menyeramkan.

"Warga di sini sudah biasa karena mereka tinggal di sekitar pemakaman," tambahnya.

Pembuatan TPS horor itu, imbuh Bruno, dilaksanakan secara bergotong royong baik oleh panitia maupun warga.

Ide awal pembuatan TPS horor itu datang begitu saja. Apalagi warga juga sudah terbiasa melihat suasana seram karena tinggal di sekitar pemakaman ini.

Ditanya untuk memenuhi kebutuhan dekorasi horor, Bruno mengungkapkan semua kebutuhan dekorasi mulai dari manekin, topeng, kain batik, hingga mukena dan lainnya dipinjamkan oleh warga.

"Kalau keranda itu memang milik RT setempat untuk kebutuhan pemakaman warga di sini," pungkasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya