Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Glodok Semrawut, Rano Karno: Itulah Kehidupan di Sana

Mohamad Farhan Zhuhri
11/2/2026 15:32
Glodok Semrawut, Rano Karno: Itulah Kehidupan di Sana
Glodok.(Antara)

WAKIL Gubernur DKI Jakarta Rano Karno buka suara soal kondisi kawasan Pecinan Glodok, Jakarta Barat, yang dipenuhi parkir liar dan pedagang kaki lima (PKL) hingga memakan badan trotoar dan jalan. Rano menilai situasi tersebut sebagai bagian dari dinamika khas Ibu Kota.

Menurutnya, aktivitas ekonomi yang padat memang menjadi warna tersendiri bagi Jakarta, termasuk di kawasan bersejarah seperti Glodok.

“Itulah uniknya Jakarta ya, teman-teman. Dari sudut memang Pak Gubernur (Pramono Anung) sendiri mengharapkan tidak boleh berjualan di pedestrian. Tapi Jakarta uniknya seperti itu,” ujar Rano saat ditemui di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (11/2).

Meski memahami karakter kawasan tersebut, Rano menegaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak akan membiarkan kondisi semrawut berlangsung tanpa penanganan.

Ia memastikan pendekatan yang diambil bukan dengan pelarangan total, melainkan penataan yang mempertimbangkan keberlangsungan aktivitas ekonomi warga.

“Kami atur, bukan kami larang. Kami atur supaya apa? Distribusi jalur itu enggak terganggu. Intinya sebetulnya itu. Kami tahu Glodok itu sangat spesifik, karakteristiknya memang seperti itu, tapi itulah kehidupan di sana,” ujarnya.

Menurut Rano, penataan diperlukan agar fungsi trotoar dan jalan tetap berjalan sebagaimana mestinya tanpa mematikan denyut perdagangan yang sudah lama tumbuh di kawasan tersebut.

Terlebih, Glodok kerap menjadi magnet wisata, khususnya menjelang perayaan Tahun Baru Imlek yang meningkatkan arus kunjungan.

Ia pun optimistis para pedagang dan masyarakat setempat dapat diajak bekerja sama demi menciptakan kawasan yang lebih tertib dan nyaman.

“Tapi saya sangat yakin mereka siap untuk diatur. Kami mengatur untuk apa? Melancarkan sebetulnya. Ya artinya kalau kunjungan wisata banyak, terganggu dengan area, itu juga barangkali nilai jualnya atau perdagangan juga menjadi terhambat,” kata Rano. (Far/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya