SETIAP kali puncak musim hujan tiba, nama Rawa Buaya di Cengkareng, Jakarta Barat, hampir selalu muncul sebagai wilayah dengan genangan terdalam. Malam ini, pemukiman warga kembali lumpuh dengan ketinggian air mencapai 150 sentimeter, memaksa ratusan jiwa mengungsi ke halte TransJakarta dan masjid terdekat.
1. Efek Cekungan (Topografi Rendah)
Secara geografis, Rawa Buaya terletak di zona depresi atau cekungan. Sebagian besar wilayah ini berada di bawah elevasi muka air laut saat pasang. Kondisi ini menyebabkan air hujan tidak dapat mengalir secara gravitasi menuju saluran pembuangan utama. Tanpa operasional pompa yang masif di Rumah Pompa Bojong dan sekitarnya, air akan tertahan dan menciptakan genangan permanen selama berhari-hari.
2. Titik Temu Kali Angke dan Kali Mookervart
Rawa Buaya dikepung oleh dua aliran sungai besar: Kali Angke dan Kali Mookervart. Ketika intensitas hujan di hulu (Bogor/Tangerang) tinggi, Kali Angke sering kali meluap karena kapasitas penampang sungai yang menyempit (bottleneck) di wilayah pemukiman padat. Luapan ini langsung tumpah ke area Rawa Buaya yang posisinya lebih rendah dari tanggul sungai.
3. Beban Berat Cengkareng Drain
Sistem drainase utama di Jakarta Barat bertumpu pada Cengkareng Drain. Namun, efektivitas saluran ini sering terhambat oleh sedimentasi (pendangkalan) dan sampah. Selain itu, saat laut sedang pasang (rob), aliran air dari Cengkareng Drain melambat, sehingga air kiriman dari Rawa Buaya antre dan justru berbalik menekan pemukiman warga.
4. Urbanisasi dan Hilangnya Ruang Resapan
Transformasi lahan di sekitar Cengkareng dan Puri Kembangan menjadi kawasan bisnis dan hunian vertikal mengurangi drastis area resapan air. Tanah yang dulunya rawa alami kini tertutup beton, memaksa 100% air hujan menjadi aliran permukaan (run-off) yang langsung menuju saluran drainase yang sudah penuh.
Data Statistik Banjir Rawa Buaya (Januari 2026)
| Lokasi Terparah | Ketinggian Air | Status Evakuasi |
|---|---|---|
| RW 01 & RW 02 | 100-150 cm | Aktif (Perahu Karet) |
| RW 11 | 80-120 cm | Siaga |
| Jl. Dharma Wanita | 70-100 cm | Lumpuh Total |
Solusi Jangka Panjang
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengupayakan normalisasi Kali Angke secara menyeluruh dan penambahan kapasitas pompa stasioner. Namun, selama penurunan muka tanah (land subsidence) di Jakarta Barat terus berlanjut, Rawa Buaya akan tetap menjadi wilayah yang sangat rentan terhadap bencana banjir setiap tahunnya.
Warga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan tengah malam nanti dan segera mengikuti instruksi petugas BPBD jika ketinggian air terus merangkak naik.
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
