Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Gubernur Perintahkan Distamhut Masifkan Tebang Pohon Tua

Mohamad Farhan Zhuhri
17/12/2025 13:22
Gubernur Perintahkan Distamhut Masifkan Tebang Pohon Tua
Petugas Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta mengevakuasi pohon tumbang yang menimpa mobil taksi di Jalan Dr. Wahidin Raya, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (14/11/2025).(MI/Usman Iskandar)

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) untuk melakukan peremajaan pohon-pohon tua khususnya yang beresiko tumbang. 

Pramono mengatakan, hal itu masif dilakukan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi angin kencang akan melanda Jakarta hingga tanggal 21 Desember 1015.
 
"Saya sudah meminta kepada Dinas Pertamanan untuk pohon-pohon tua semuanya kita rapikan. Maka sebenarnya hampir di semua daerah sudah dilakukan, tapi memang terkadang tidak mencukupi," ujarnya di Jakarta Utara dikutip, hari ini.

Dalam beberapa waktu terakhir, kerap terjadi pohon tumbang di sejumlah wilayah saat hujan lebat disertai angin kencang.

Meski demikian, Pramono menegaskan Pemprov DKI telah menggencarian penopingan dan perapian 65 ribu pohon, khususnya yang berumur tua dan hampir lapuk. Hanya saja, Pramono menyadari hal itu tak bisa sepenuhnya mencegah bencana hidrometeorologi.

"Sebenarnya hampir di semua daerah sudah dilakukan (perapian pohon), tapi memang terkadang tidak mencukupi. Dan kita tidak tahu angin puting beliung yang kemarin bisa di Ancol, kemudian juga di Sunda Kelapa, itu kan kita tidak tahu bahwa arahnya di sana," urai Pramono.

Sebelumnya, BMKG menyatakan angin kencang yang melanda Jakarta dan sekitarnya merupakan bagian dari fenomena cuaca ekstrem pada puncak musim hujan. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya hingga 21 Desember 2025.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, Desember menjadi periode paling aktif bagi pembentukan cuaca ekstrem di wilayah barat Indonesia, termasuk Jabodetabek. Kombinasi hujan lebat, awan konvektif, dan perbedaan tekanan udara menjadi pemicu utama angin kencang.

"Angin kencang di Jakarta saat ini merupakan bagian dari fenomena cuaca ekstrem di puncak musim hujan. Berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi ini masih berpotensi berlangsung hingga sekitar 21 Desember 2025," kata Guswanto kepada wartawan.

BMKG memprediksi hujan lebat disertai angin kencang masih akan terjadi di wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari ke depan. Situasi ini berpotensi menimbulkan gangguan aktivitas warga hingga risiko bencana hidrometeorologi.

BMKG mencatat, pada periode 14–16 Desember 2025, potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang sudah terdeteksi di sejumlah wilayah Jabodetabek. Dampaknya mulai terasa di lapangan, mulai dari pohon tumbang hingga gangguan aktivitas masyarakat pesisir.

Menurut BMKG, Jawa Barat, termasuk kawasan Jabodetabek, saat ini mencatat frekuensi hujan ekstrem dan angin kencang yang lebih tinggi dibanding wilayah lain di Indonesia. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

"Terdapat risiko hidrometeorologi yang perlu diwaspadai. Angin kencang dapat menimbulkan pohon tumbang, kerusakan ringan pada bangunan, serta mengganggu aktivitas transportasi," ujarnya.

BMKG mengingatkan sejumlah wilayah untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama area dengan pepohonan besar, jaringan listrik terbuka, serta kawasan pesisir utara Jakarta seperti Marunda dan Cilincing.

BMKG memperkirakan intensitas angin akan mulai menurun setelah pertengahan Desember. Namun, potensi hujan deras dan angin lokal masih dapat terjadi hingga akhir bulan, terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. (Far/P-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya