Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
BANJIR selalu menggenangi Ibu Kota. Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memiliki terobosan baru dalam hal pengendalian banjir. Upaya pengerukan waduk, sungai, dan saluran yang digembar-gemborkan sesungguhnya hanya program rutin yang memang mesti dilakukan baik di musim kemarau maupun musim hujan.
“Itu memang kegiatan rutinitas yang harus dilakukan ada atau tidak ada hujan. Ada atau tidak ada pandemi covid. Artinya, tidak ada terobosan yang berarti. Artinya, Jakarta dan warga yang tinggal di kawasan rawan akan tetap terdampak banjir dan bisa lebih parah. Karena tidak ada antisipasi yang lebih signifikan,” kata ahli tata ruang Universitas Trisakti Nirwono Joga di Jakarta, kemarin.
Kendati demikian, Nirwono memahami fokus Pemprov DKI pasti terbagi karena banyaknya anggaran yang menyusut dan mayoritas harus dialihkan ke penanganan covid-19.
“Dinas SDA hanya bisa fokus pada pekerjaan rutin karena semua dana dialihkan untuk penanganan covid. Tugas yang bisa dilakukan ialah mengeruk sungai dan danau/waduk agar kapasitas daya tampung bertambah, membersihkan seluruh saluran air dari sampah dan endapan lumpur, serta memetakan kawasan rawan banjir untuk mempersiapkan antisipasi evakuasi jika terjadi banjir,” jelasnya.
Di sisi lain, ada pekerjaan yang terpaksa harus ditunda, seperti pembenahan sungai dengan normalisasi atau naturalisasi, revitalisasi situ/danau/embung/waduk, rehabilitasi saluran air, serta memperbanyak RTH.
“Kondisi pandemi begini tidak banyak pilihan. Dampaknya warga yang langganan banjir pasti akan kebanjiran lagi. Mereka harus disiapkan tempat evakuasi. Semoga saja curah hujannya tidak seekstrem awal tahun ini. Tantangannya, apakah sudah menyiapkan tempat evakuasi dan penampungan yang menerapkan protokol kesehatan dengan ketat,” ungkapnya.
Sementara itu, Dinas Sumber Daya Air DKI mulai mempergunakan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang didapat dari pemerintah pusat melalui pinjaman PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
Dari total dana Rp12,5 triliun itu, Dinas SDA mendapat jatah Rp5 triliun khusus untuk menangani banjir. Dana itu digelontorkan secara bertahap hingga 2022.
Kepala Dinas SDA DKI Juaini Yusuf mengatakan ia akan menggunakan Rp1,2 triliun untuk tahun ini. “Mungkin untuk penambahan baru di tahun ini baru pompa mobile saja yang kita akan kerjakan. Sekarang dalam proses lelang, ada sekitar 19 unit,” kata Juaini.
Selain pompa, Juaini mengatakan dana tersebut juga akan digunakan untuk pembebasan beberapa bidang lahan untuk normalisasi sungai-sungai. Untuk pembebasan lahan itu, dana yang disiapkan ialah Rp500 miliar.
Ia juga akan melanjutkan pembangunan polder-polder tampungan air serta pembebasan lahan waduk dan normalisasi tahun depan. “Pembebasan lahan dan pembangunan waduk, polder, tanggul, tetap lanjut. Mungkin awal tahun depan,” tandasnya. (Put/Dmr/J-1)
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Lurah Jimbaran, I Wayan Kardiyasa mengatakan di wilayahnya ada tiga rumah warga yang masih tergenang air hujan selain juga halaman sekolah TK Kumara Sari.
Warga desa yang terbiasa hidup dengan keterbatasan dinilai lebih mudah beradaptasi saat harus kehilangan harta benda.
HINGGA malam hari ini Kota Denpasar dan Bali umumnya masih diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Data yang dihimpun BPBD Kabupaten Badung hingga Selasa (24/2) pukul 09.00 Wita sejak Senin (23/2) pukul 18.00 Wita, menyebutkan ada 8 kejadian banjir di Kuta dan 1 di wilayah Kuta Selatan.
Bantuan benih diberikan setelah sebanyak 1.031 petani yang terdampak banjir mengadu dan beraudiensi langsung ke Plt Bupati Asep Surya Atmaja.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved