Kamis 13 Februari 2020, 11:45 WIB

Revitalisasi TIM Disebut Genosida Kebudayaan

Cindy Ang | Megapolitan
Revitalisasi TIM Disebut Genosida Kebudayaan

ANTARA/Aprillio Akbar
Pekerja beraktivitas di lokasi proyek revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta.

 

RATUSAN ribu pekerja seni harus kehilangan mata pencaharian mereka akibat revitalisasi Taman Ismail Marsuki (TIM), Jakarta Pusat. Ruang berekspresi itu dihancurkan dan diperkirakan baru rampung dua tahun mendatang.

"Seniman dan pekerja budaya kehilangan alat, ruang, dan medium ekspresi. Proses pembangunan kebudayaan pun diasasinasi. Kami menyebutnya Genosida Kebudayaan," ucap mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Noorca Massardi lewat keterangan tertulis, Kamis (13/2).

Noorca menyebut para seniman menolak keras revitalisasi TIM. Penolakan sudah berlangsung selama berbulan-bulan lewat silent movement atau acara seni gerilya.

Mereka protes. Sebagai pemangku kepentingan utama pusat kesenian Jakarta, mereka tidak dilibatkan dalam perencanaan revitalisasi TIM.

"Gagasan tentang revitalisasi bisa jadi bagus maksud dan tujuannya, tapi bagaimana bentuk dan apa dasar (visioner) yang dimaksud, dua istilah itu tidak kami mengerti," kata Noorca.

Baca juga: Mengembalikan Marwah Ondel-Ondel sebagai Ikon DKI

Noorca menyoroti ditekennya Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 63 Tahun 2019 yang memberi wewenang kepada PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk mengelola TIM menjadi kawasan komersial. Sehingga TIM bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kerja kebudayaan tidak menjadi beban APBD.

"Dengan membangun hotel bintang lima tujuh lantai yang belakangan mereka gelincirkan terminologinya secara peyoratif menjadi wisma. Tapi esensinya tetap hotel bintang lima," sambung Noorca.

Noorca menegaskan pemerintah diwajibkan membiayai kegiatan kebudayaan sebagai obligasi konstitusional dan kultural, bukan menjadi beban.

Lebih tepatnya, kata dia, investasi pembangunan imaterial (infrastruktur non-fisik) sebagai sisi lain mata uang pembangunan material (infrastruktur fisik).

Noorca bersama Forum Seniman Peduli TIM didukung pekerja seni-budaya dan simpatisan akan terus melakukan silent movement sebagai penegasan tiga hal yaitu menolak pembangunan hotel di TIM, menolak Jakpro mengelola TIM, dan mencabut Pergub Nomor 63 tahun 2019. (OL-1)

Baca Juga

Antara

LBH DKI Kritik 4 Tahun Jabatan Anies, Pemprov: Kami Terbuka

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Senin 18 Oktober 2021, 16:57 WIB
Pemprov DKI Jakarta memastikan segera mempelajari sejumlah kritik yang disampaikan LBH DKI. Termasuk, memberikan respons dan...
MI/M IRFAN

Warga Tuntut Ganti Lahan Imbas Fly Over Tapal Kuda, DKI: Tak Ada Suratnya

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Senin 18 Oktober 2021, 15:24 WIB
Hari menemukan lahan tersebut diduduki oleh warga tanpa surat-surat yang...
DOK HUMAS POLDA METRO JAYA

Kapolda Metro Jaya Janji Usut Tuntas Selebgram Kabur dari Wisma Atlet

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Senin 18 Oktober 2021, 14:41 WIB
Pengusutan ini menjadi upaya untuk menjawab keinginan masyarakat agar yang bersangkutan diusut atas peristiwa yang dinilai melecehkan upaya...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya