Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Kuliner Afrika Tidak Butuh Validasi Barat untuk Menjadi Berkelas

Thalatie K Yani
12/2/2026 12:13
Kuliner Afrika Tidak Butuh Validasi Barat untuk Menjadi Berkelas
Chef legendaris Marcus Samuelsson bicara soal masa depan kuliner Afrika. Baginya, "fine dining" sudah ada di akar sejarah Afrika, bukan sekadar tren baru.(Marcus Samuelsson)

BAGI Marcus Samuelsson, koki ternama keturunan Ethiopia-Swedia, kuliner Afrika bukanlah sebuah tren yang baru saja "tiba" di panggung global. Baginya, kuliner Benua Hitam sudah lama ada di sana, berakar kuat, penuh spiritualitas, dan memiliki kepercayaan diri yang tenang, terlepas dari apakah dunia memperhatikannya atau tidak.

"Kami tahu makanan kami luar biasa," ujar Samuelsson kepada Larry Madowo dari CNN. "Rasanya lezat, terhubung dengan spiritualitas kami, dan sejarah kami. Jadi, mengapa standarnya harus datang dari luar?"

Pertanyaan tersebut menjadi inti dari visi Samuelsson. Sebagai koki termuda yang pernah meraih ulasan bintang tiga dari The New York Times dan pemenang Top Chef Masters, ia ingin membongkar anggapan salah bahwa masa depan makanan Afrika bergantung pada persetujuan Barat.

Afrika Bukanlah Satu Cerita Tunggal

Samuelsson menolak penyederhanaan kuliner Afrika. Menurutnya, sering kali orang membicarakan makanan Afrika seolah-olah itu adalah satu jenis masakan tunggal, padahal setiap wilayah memiliki identitas yang sangat berbeda.

"Afrika adalah sebuah benua," tegasnya. "Makanan Senegal berbeda dengan makanan Ethiopia. Makanan Maroko berbeda dengan makanan Afrika Selatan. Namun terkadang, saat orang bicara tentang Afrika, mereka membicarakan seolah itu satu hal saja."

Ia menjelaskan konsep fine dining sebenarnya sudah lama ada di Afrika melalui teknik memasak kuno, tradisi rempah yang kompleks, dan ritual makan bersama. "Fine dining di Afrika bukanlah hal baru bagi kami. Itu hal baru bagi dunia," tambahnya.

Membangun di Tanah Kelahiran

Komitmen Samuelsson tidak hanya berhenti pada kata-kata. Ia baru saja membuka restoran di Addis Ababa, Ethiopia, yang menempati salah satu gedung tertinggi di Afrika Timur. Namun, proyek ini bukan sekadar kemegahan. Ia membangun jalur karir bagi siswa sekolah masak setempat untuk bekerja di restorannya.

Samuelsson ingin mengubah pola pikir kesuksesan harus dicapai dengan pergi ke London atau New York. "Pesan saya adalah, Anda juga harus bisa tinggal di negara Anda sendiri dan meraih sukses besar," katanya.

Makanan Sebagai Identitas

Lahir di Ethiopia dan diadopsi oleh keluarga Swedia, Samuelsson menemukan jati dirinya melalui makanan. Pengalaman masa kecil yang jarang menemukan representasi orang kulit berwarna di buku masak membuatnya bertekad untuk menciptakan dapur yang inklusif.

"Saat masih menjadi koki muda, Anda datang dan berkata 'ya, chef' (yes, chef)," jelasnya merujuk pada hierarki dapur yang ketat. "Sebagai pemilik, Anda memilih siapa yang Anda pekerjakan, dari siapa Anda membeli, dan siapa yang Anda bawa ke dalam ruang tersebut. Di situlah perubahan terjadi."

Kini, ia melihat makanan Afrika mengikuti jejak musik seperti Afrobeats dan Amapiano yang menjadi standar global setelah berjaya di rumah sendiri. Samuelsson yakin bahwa dengan satu miliar penduduk, Afrika tidak lagi membutuhkan persetujuan luar.

"Masa depan ada di Afrika," tutupnya. "Dan jika bicara soal fine dining, kita tidak butuh persetujuan. Kita sudah memiliki semua yang kita butuhkan." (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya