Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI tahun 2026, upaya pencegahan kanker serviks dan penyakit terkait Human Papillomavirus (HPV) di Indonesia mengalami transformasi besar. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan tidak hanya memperkuat program imunisasi bagi anak perempuan, tetapi juga memperluas cakupan perlindungan secara nasional. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi global untuk eliminasi kanker serviks pada tahun 2030.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya vaksinasi ini terus meningkat, terutama dengan hadirnya varian vaksin yang lebih lengkap dan akses yang semakin mudah di berbagai fasilitas kesehatan.
HPV bukan sekadar virus penyebab kanker serviks. Virus ini bertanggung jawab atas berbagai kondisi medis serius lainnya, termasuk kutil kelamin, kanker anus, kanker penis, hingga kanker mulut dan tenggorokan. Di tahun 2026, data medis menunjukkan bahwa pendekatan "netral gender" dalam vaksinasi jauh lebih efektif untuk memutus rantai penularan di masyarakat.
Vaksinasi bekerja paling optimal jika diberikan sebelum seseorang terpapar virus melalui kontak seksual. Oleh karena itu, pemberian di usia sekolah menjadi prioritas utama pemerintah dan organisasi kesehatan dunia (WHO).
Salah satu pembaruan paling signifikan dalam kebijakan kesehatan nasional tahun 2026 adalah perluasan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Jika sebelumnya vaksin HPV hanya diwajibkan bagi siswi kelas 5 dan 6 SD, mulai tahun ini, pemerintah secara bertahap mulai menyasar anak laki-laki usia 11 tahun (kelas 5 SD).
Keputusan ini didasarkan pada fakta bahwa laki-laki merupakan pembawa (carrier) utama virus HPV. Dengan memvaksinasi anak laki-laki, perlindungan kelompok (herd immunity) akan terbentuk lebih cepat, yang secara langsung akan menurunkan angka kasus kanker serviks pada perempuan di masa depan.
Berdasarkan rekomendasi terbaru dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) tahun 2026, berikut adalah skema dosis yang berlaku:
Pada kelompok usia ini, respon imun tubuh masih sangat kuat. Cukup diberikan dua dosis dengan interval 6 hingga 12 bulan. Bahkan, dalam beberapa kondisi program masal, satu dosis mulai dipertimbangkan sesuai pedoman terbaru WHO untuk efisiensi cakupan.
Bagi individu yang baru memulai vaksinasi di usia 15 tahun ke atas, diperlukan tiga dosis dengan jadwal 0, 1-2, dan 6 bulan. Hal ini penting untuk memastikan kadar antibodi mencapai level proteksi jangka panjang.
| Jenis Vaksin | Estimasi Harga (Rupiah) |
|---|---|
| HPV Bivalen (Cervarix) | Rp800.000 – Rp1.300.000 |
| HPV Kuadrivalen (Gardasil 4) | Rp1.000.000 – Rp1.600.000 |
| HPV Nonavalen (Gardasil 9) | Rp1.800.000 – Rp2.700.000 |
*Harga per dosis, belum termasuk biaya administrasi rumah sakit.
Selain vaksinasi, pemerintah juga memperluas akses screening melalui teknologi HPV DNA self-sampling. Mulai tahun 2026, perempuan usia 30-69 tahun dapat melakukan pengambilan sampel secara mandiri dengan alat khusus yang lebih nyaman dibandingkan metode Pap Smear konvensional.
Sangat disarankan. Laki-laki dewasa hingga usia 26 tahun (dan hingga 45 tahun atas saran dokter) direkomendasikan untuk vaksinasi guna mencegah kutil kelamin dan kanker anus serta penis.
Efek samping umumnya ringan, seperti nyeri di area suntikan, kemerahan, atau demam ringan selama 1-2 hari. Ini adalah tanda normal bahwa tubuh sedang membentuk sistem kekebalan.
Update vaksin HPV 2026 membawa angin segar bagi kesehatan publik di Indonesia. Dengan perluasan program kepada anak laki-laki dan kemudahan akses screening mandiri, target eliminasi kanker serviks menjadi lebih realistis. Pastikan Anda dan keluarga melengkapi dosis imunisasi sesuai jadwal untuk perlindungan optimal di masa depan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved