Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Pasar Kerja Krisis, Begini Kiat Beradaptasi Mencari Kerja dari Akun HRDBacot

Fathurrozak
19/12/2025 17:04
Pasar Kerja Krisis, Begini Kiat Beradaptasi Mencari Kerja dari Akun HRDBacot
Pencari kerja(MI/Ramdani)

LEMBAGA Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) merilis laporan tentang gelombang putus asa yang menyoroti para pencari kerja di Indonesia, beberapa waktu lalu.

Pada Februari 2025, tercatat ada 1,87 juta orang tidak bekerja dan bahkan berhenti mencari kerja karena putus asa, naik sekitar 11% dari periode sebelumnya. Di dalamnya termasuk sekitar 45 ribu lulusan S1 dan lebih dari 6 ribu lulusan pascasarjana yang kini masuk kategori putus asa. 

LPEM FEB UI mengungkapkan, angka tersebut menjadi cermin keras gagalnya ekosistem ketenagakerjaan menyediakan jalur transisi yang jelas, keterampilan yang relevan, dan peluang kerja yang merata serta dapat diakses.

Kepala Kelompok Kajian Perlindungan Sosial dan Buruh (LPEM FEB) Universitas Indonesia, Muhammad Hanri, menuturkan situasi yang terjadi saat ini karena kombinasi beberapa hal. Salah satunya ketidakpastian ekonomi yang membuat perusahaan sangat berhati-hati dalam merekrut karyawan. Lapangan kerja bergeser dari tetap ke kontrak jangka pendek. 

“Dari sisi permintaan, perusahaan masih hati-hati dalam merekrut karena ekonomi global melambat, suku bunga tinggi, dan ketidakpastian dagang internasional,” kata Hanri kepada Media Indonesia, Kamis (19/12).

“Dari sisi supply, setiap tahun jumlah lulusan S1 dan S2 meningkat cepat, sementara penciptaan kerja berkualitas tidak secepat pertumbuhan lulusan. Di beberapa bidang terjadi inflasi gelar, sehingga posisi yang dulu cukup S1 sekarang mensyaratkan S2, tetapi jumlah kursi pekerjaan tidak bertambah banyak,” ungkap Hanri.

Sementara itu, @HRDBacot, akun yang kerap membahas dinamika dunia perkantoran dan pekerjaan di media sosial, utamanya di Twitter menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan kurang minatnya berbagai perusahaan merekrut lulusan pendidikan tinggi seperti S2 maupun mereka yang memiliki portofolio matang, di antaranya karena perusahaan menilai pencari kerja dengan latar belakang tersebut sebagai overqualified. Jal itu menyebabkan lulusan S2 maupun pencari kerja berpengalaman susah mencari kerja.

“Karena terkadang yang dibutuhkan perusahaan tidak setinggi yang tersedia di job market. Perusahaan melihat dengan CV yang sementereng itu pasti akan berpikiran dengan ekspektasi gaji yang tinggi. Jadi daripada mentok di nego gaji, perusahaan lebih memilih kandidat dengan CV yang berada di bawahnya,” ujar HRDBacot saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (13/12).

HRDBacot menilai tidak semua perusahaan punya daya bayar yang sama dengan yang diharapkan kandidat. Saat ini, menurut mereka, kondisi diperburuk dengan ekonomi yang tidak sebaik tahun sebelumnya.

“Lebih banyak freeze hiring atau memaksimalkan internal talent untuk dirotasi/mutasi,” ungkapnya.

HRDBacot pun memberikan beberapa kiat agar para pencari kerja bisa beradaptasi di tengah situasi pasar kerja Indonesia yang tengah mengalami krisis. Berikut beberapa tips dari HRDBacot: 

1. Buka Peluang Kerja di Luar Indonesia

Karena pasar kerja yang kurang bagus di Indonesia, menurut HRDBacot, pencari kerja bisa membuka peluang untuk bekerja jarak jauh atau kerja di luar Indonesia. “Untuk saat ini mungkin lebih baik, ketimbang mencari di Indonesia yang secara salary dan lingkungan kerja atau suasananya lebih baik”.

2. Pindah Karier

Membuka peluang untuk cross career atau switch career ke bidang lain yang secara skill masih bisa diimbangi yang apa yang dimiliki. “Sebagai contoh, sebuah posisi requirement technicalnya ada 8, at least punya 4-5 skill kita masih bisa survive,” jelas HRDBacot.

3. Jangan Turun Gaji  

“Mincot tidak menyarankan untuk menurunkan current salary buat dapat kerja, kalau pun turun, jangan turun lebih jauh dari gaji terakhir,” ungkap HRDBacot. 

Hal itu, bisa berdampak pada gaji ke depannya jika pencari kerja pindah ke tempat lain. “Karena HR di Indonesia selalu berpatokan pada gaji terakhir, meski tidak semua perusahaan seperti itu.”(M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya