Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTIVIS Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) menekankan bahwa kulit yang segar, napas yang lega, dan hidup yang bebas dari racun merupakan definisi baru dari cantik modern.
Kita semua tahu kalau rokok itu berbahaya, tapi sering kali lupa kalau efeknya bukan cuma soal paru-paru, lho. Menurut Wakil Ketua Umum WITT, Tatyana Sutara, dampak asap rokok bisa sampai ke kulit dan kecantikan kita, lho.
“Perempuan yang sering terpapar asap rokok dapat membuat kulitnya lebih kusam dan cepat menua,” jelas Tatyana. “Zat kimia dalam rokok itu bisa mengganggu aliran darah dan bikin tubuh rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk jantung,” imbuhnya saat menjelaskan ajang Pemilihan Puteri WITT 2026 yang akan dihelat pada Februari.
Selain itu, bagi ibu hamil, risiko paparan asap rokok bisa sangat berbahaya. Tatyana juga menekankan bahwa perempuan punya peran besar sebagai contoh di keluarga. “Perempuan itu sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dengan memberi contoh hidup sehat, kita bisa melindungi keluarga dari bahaya asap rokok,” tegasnya.
Tak hanya rokok, Tatyana juga mengingatkan bahaya rokok elektronik atau vape yang kini dianggap ‘lebih aman’. Padahal, menurutnya, vape justru lebih berbahaya karena mengandung bahan kimia yang lebih kuat. “Vape itu lebih 'jahat', hanya saja kemasannya dibuat cantik dan tidak berbau, jadi banyak yang tertipu. Di Singapura, vape malah sudah dilarang total karena efeknya sangat berbahaya,” katanya.
Sementara itu, Venna Melinda, mantan anggota DPR dan Putri Indonesia 1994, juga berbagi kisah pribadinya soal hidup sehat tanpa rokok. “Dari dulu saya enggak pernah merokok. Sekarang di usia 53, saya masih bisa aktif dan loncat-loncat. Itu semua karena investasi menjaga gaya hidup sehat,” ucapnya.
Venna mengaku sering merasa tidak nyaman saat menjadi perokok pasif, terutama ketika aktif di dunia politik yang membuatnya berada dalam posisi yang sulit. Sebagai seorang wakil rakyat, ia harus bisa merangkul semua kalangan.
“Waktu di DPR, banyak ruang penuh asap rokok. Begitu saat turun ke dapil banyak bapak-bapak yang merokok, saya enggak merokok, tapi ikut sesak napas,” kenangnya.
Pengalaman itu membuatnya semakin sadar pentingnya lingkungan yang bebas asap dan mendorongnya untuk menginspirasi lebih banyak perempuan untuk hidup sehat lewat wadah WITT.
“Saya ingin perempuan Indonesia sadar kalau merokok bukan cuma soal kesehatan, tapi juga ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Banyak anak kekurangan gizi karena uangnya habis buat rokok. Akibatnya, anak jadi stunting,” jelasnya.
WITT berawal dari sebuah komunitas yang diprakasai Mia Hanafiah, Tuti Roosdiono, Inti Subagyo, Dewi Motik Pramono, dan Mirta Katohadiprojo yang peduli pada gaya hidup sehat di kalangan perempuan, terutama gaya hidup sehat tanpa asap rokok.
Atas dasar itu pada 2015 WITT menginisiasi kegiatan pemilihan duta sehat tanpa rokok dan kini tengah bersiap menggelar kembali ajang Pemilihan Puteri WITT 2026 pada Februari 2026 di Jakarta. Mengusung tema Asap yang Padam Semangat yang Menyala, WITT mengajak generasi muda untuk lebih sadar akan bahaya merokok, terutama di kalangan perempuan muda yang menjadi target utama industri rokok.
WITT juga gencar mengampanyekan zona bebas rokok di lingkungan sekolah dengan mengusulkan zona dengan radius 500 meter di sekitar sekolah bebas dari penjual rokok dan iklan rokok kepada pemerintah. (B-3)
Berbagai tantangan yang menghambat pemberdayaan perempuan di ruang digital, mulai dari belenggu stereotip gender, minimnya kepercayaan diri, hingga kurangnya figur panutan.
Partisipasi Great Eastern Life Indonesia dalam ajang ini menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan untuk menjadi mitra hidup sehat, aman, dan penuh makna bagi masyarakat.
PENINGKATAN kesejahteraan keluarga harus diwujudkan sebagai bagian upaya membangun sistem perlindungan terhadap perempuan dan anak dari ancaman tindak kekerasan.
Rumah subsidi yang semakin kecil tidak hanya berdampak pada kenyamanan fisik, tetapi juga mengganggu kualitas hubungan antara anggota keluarga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved