Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

Pilpres Hungaria: Viktor Orban Terancam Tumbang oleh Kebangkitan Peter Magyar?

Thalatie K Yani
06/4/2026 09:05
Pilpres Hungaria: Viktor Orban Terancam Tumbang oleh Kebangkitan Peter Magyar?
PM Hungaria Viktor Orban(Media Sosial X)

RAKYAT Hungaria menyalurkan hak pilih mereka, Minggu (12/4), dalam pemilihan umum yang disebut-sebut sebagai titik balik politik negara tersebut. Untuk pertama kalinya sejak kembali berkuasa pada  2010, Perdana Menteri nasionalis Viktor Orban tidak lagi menyandang status sebagai favorit mutlak.

Lembaga survei independen mengindikasikan partai konservatif TISZA yang dipimpin tokoh oposisi Peter Magyar berpotensi meraih kemenangan telak. Sebaliknya, lembaga riset pro-pemerintah tetap memprediksi kemenangan bagi koalisi Fidesz-KDNP pimpinan Orban. Para analis memperkirakan tingkat partisipasi pemilih akan mencetak rekor di angka 75-80 persen.

Kampanye Penuh Tudingan dan Isu Geopolitik

Masa kampanye diwarnai hujan tuduhan timbal balik. Muncul dugaan sabotase intelijen domestik terhadap partai TISZA, hingga kebocoran percakapan telepon yang mengungkap kedekatan Menteri Luar Luar Negeri Hungaria dengan Moskow. Di sisi lain, Orban semakin meningkatkan retorika anti-Ukraina dan menuduh Magyar sebagai "boneka" Kyiv dan Uni Eropa yang mengancam akan menyeret Hungaria ke dalam perang.

Ketegangan mencapai puncaknya pada Minggu ketika Orban menggelar pertemuan darurat terkait temuan bahan peledak di dekat jalur pipa gas ke Hungaria. Namun, Peter Magyar justru menyebut insiden tersebut sebagai operasi "false flag" atau rekayasa untuk memengaruhi opini publik.

Sorotan Internasional dan Dukungan Global

Dunia internasional mengamati ketat pemilu ini karena posisi Orban yang strategis di kancah global. Sebagai pemimpin yang dekat dengan Rusia, Tiongkok, dan Amerika Serikat di bawah Donald Trump, Orban kerap melumpuhkan kebijakan luar negeri Uni Eropa melalui hak veto Hungaria.

Dukungan untuk Orban mengalir dari tokoh-pemerintah sayap kanan dunia, termasuk Donald Trump. Bahkan, Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan mengunjungi Budapest pada Selasa mendatang untuk menggelar reli bersama Orban.

Menurut pakar politik Jacques Rupnik dari Sciences Po Paris, isu utamanya adalah arah masa depan Hungaria. "Apakah Hungaria akan tetap bersikap 'lunak' terhadap Rusia di bawah Orban, atau dengan terpilihnya Magyar, mereka akan bergerak untuk membangun kembali hubungan dengan Uni Eropa," ujar Rupnik.

Antara "Pilihan Aman" dan "Perubahan Sistem"

Meskipun popularitasnya merosot akibat stagnasi ekonomi dan berbagai skandal, Orban tetap memosisikan dirinya sebagai "pilihan aman" di dunia yang sedang bergejolak. Namun, analis Peter Farkas Zarug menilai koalisi penguasa kini kehilangan kendali atas prioritas kampanye. "Mereka menghadapi oposisi yang sangat efektif, yang memaksa partai penguasa dan pemimpinnya tidak hanya bersaing, tetapi juga membela diri," ungkapnya.

Peter Magyar, 45, yang merupakan mantan orang dalam pemerintahan, menjanjikan "perubahan sistem" dengan memberantas korupsi dan memperbaiki layanan publik. Ia menggunakan slogan bersejarah revolusioner Hungaria, "Sekarang atau tidak sama sekali."

Kekhawatiran Kecurangan Pemilu

Kritikus menuduh Orban telah memodifikasi undang-undang pemilu dan memanfaatkan sumber daya negara demi keuntungan partainya. Terdapat pula laporan mengenai dugaan tekanan terhadap 500.000 warga miskin untuk memilih penguasa, serta kekhawatiran manipulasi surat suara dari warga Hungaria di luar negeri.

Menanggapi hal ini, Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) telah mengerahkan misi pengamat penuh untuk mengawasi jalannya pemungutan suara di seluruh penjuru Hungaria. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya