Headline
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDANA Menteri Hungaria, Viktor Orban, segera menggelar rapat darurat Dewan Pertahanan Nasional menyusul penemuan bahan peledak berbahaya di dekat jalur pipa yang menyalurkan gas Rusia ke negaranya. Insiden ini terjadi di wilayah perbatasan Serbia, hanya sepekan sebelum pemilu krusial yang dijadwalkan pada Minggu mendatang.
Kabar ini pertama kali dikonfirmasi Presiden Serbia, Alexander Vucic, yang merupakan sekutu dekat Orban. Tentara Serbia menemukan dua ransel berisi bahan peledak dan detonator di dekat desa Tresnjevac, sekitar 20 kilometer dari titik masuk pipa TurkStream ke Hungaria.
"Unit kami menemukan bahan peledak dengan daya rusak yang menghancurkan," tulis Vucic melalui unggahan Instagram pribadinya. "Saya telah menyampaikan kepada PM Orban bahwa kami akan terus memberikannya informasi terbaru mengenai penyelidikan ini."
Insiden ini mencuat di tengah posisi partai Fidesz pimpinan Orban yang sedang tertinggal dalam berbagai jajak pendapat. Pemimpin oposisi, Peter Magyar, bereaksi keras dengan menuduh Orban melakukan "penyebaran kepanikan" yang didalangi oleh penasihat Rusia.
Tudingan ini diperkuat oleh sejumlah pakar keamanan yang sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan adanya operasi false flag, sebuah serangan rekayasa yang dirancang untuk menyudutkan pihak tertentu, dalam hal ini Ukraina. Tujuannya diduga untuk membangkitkan simpati publik bagi Orban atau memberikan alasan untuk menyatakan keadaan darurat guna menunda pemilu.
"Kami memiliki informasi awal yang solid tentang operasi ini, termasuk detail lokasi dan waktu yang memungkinkan," ungkap mantan perwira senior kontra-intelijen Hungaria, Peter Buda, kepada BBC. Menurutnya, kepentingan Ukraina tidak terlibat di sini, dan operasi semacam ini justru menguntungkan Orban untuk memengaruhi opini publik.
Dalam kampanyenya, Orban secara konsisten menjadikan permusuhan terhadap Ukraina sebagai landasan. Ia mengeklaim bahwa harga energi yang murah di Hungaria hanya mungkin terjadi berkat minyak dan gas Rusia yang tetap mengalir. Ia juga menuduh adanya poros "Kyiv-Brussels-Berlin" yang berkonspirasi untuk menggulingkannya dan menggantinya dengan "pemerintah boneka" di bawah Peter Magyar.
Pemerintah Ukraina sendiri dengan cepat membantah keterlibatan mereka. "Ukraina tidak ada hubungannya dengan ini," tegas juru bicara kementerian luar negeri Heorhiy Tykhyy melalui platform X. Ia justru menduga hal ini sebagai operasi Rusia sebagai bagian dari campur tangan berat Moskow dalam pemilu Hungaria.
Menteri Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, tetap bersikeras bahwa ancaman tersebut nyata. Ia menuduh Ukraina telah melakukan blokade minyak terhadap Hungaria dan mencoba meluncurkan drone ke pipa TurkStream di wilayah Rusia. "Dan sekarang kita menghadapi insiden hari ini, di mana kolega Serbia menemukan peledak yang mampu meledakkan pipa tersebut," tulisnya di Facebook.
Di sisi lain, Peter Magyar menegaskan bahwa insiden ini tidak akan menghentikan proses demokrasi. "Dia (Orban) tidak akan bisa mencegah pemilu Minggu depan. Dia tidak akan bisa mencegah jutaan warga Hungaria untuk mengakhiri dua dekade paling korup dalam sejarah negara kita," tutup Magyar.
Hingga kini, publik masih menanti hasil investigasi resmi otoritas Serbia yang dijadwalkan rilis pada Senin waktu setempat. (BBC/Z-2)
Dulu pengagum setia, kini lawan terkuat. Simak profil Peter Magyar, tokoh konservatif yang berjanji meruntuhkan sistem politik Viktor Orban di Hungaria.
Viktor Orban menghadapi tantangan terberat dalam karier politiknya. Simak transformasi Hungaria di bawah kepemimpinannya dan sosok Peter Magyar yang mengancam takhtanya.
Hungaria menggelar pemilu paling sengit sejak 2010. PM Viktor Orban menghadapi tantangan berat dari oposisi Peter Magyar di tengah isu korupsi dan pengaruh Rusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved