Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Prabowo ke Jepang Jadi Koreksi Arah Diplomasi Jadi Kemitraan Strategis

Cahya Mulyana
31/3/2026 16:21
Prabowo ke Jepang Jadi Koreksi Arah Diplomasi Jadi Kemitraan Strategis
Pemerhati hubungan internasional dan investasi, Zenzia Sianica Ihza.(dok.istimewa)

KUNJUNGAN Presiden RI Prabowo Subianto ke Jepang menuai banyak apresiasi karena dinilai sebagai langkah strategis yang menandai koreksi arah diplomasi ekonomi Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Indonesia–Jepang sempat terkesan meredup seiring meningkatnya intensitas kerja sama Indonesia dengan Tiongkok, terutama di sektor infrastruktur dan investasi skala besar.

“Selama ini Jepang seolah ditinggalkan. Padahal, karakter hubungan Indonesia–Jepang itu bersifat komplementer, bukan substitusi. Ini berbeda dengan Tiongkok yang cenderung menjadi substitusi dalam banyak sektor industri,” ujar pengamat hubungan internasional, Zenzia Sianica Ihza dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (31/3).

Zenzia menjelaskan, kerja sama dengan Jepang cenderung saling melengkapi (complementary), terutama dalam aspek teknologi, kualitas industri, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Sementara dengan Tiongkok, relasi ekonomi sering kali bersifat substitusi, yakni menggantikan peran domestik dalam rantai produksi.

“Jepang membawa teknologi, governance, dan standar tinggi. Indonesia menyediakan pasar, sumber daya, dan SDM. Ini hubungan yang sehat dan jangka panjang,” kata Zen.

Sebaliknya, dalam banyak proyek dengan Tiongkok, Indonesia lebih berperan sebagai pasar sekaligus lokasi produksi dengan transfer teknologi yang relatif terbatas.

ODA Berubah dari Infrastruktur ke SDM AI

Kunjungan Prabowo juga dinilai penting karena bertepatan dengan perubahan besar dalam skema Official Development Assistance (ODA) Jepang. Jika sebelumnya fokus pada pembangunan fisik seperti jalan dan jembatan, kini Jepang mengarahkan ODA ke pengembangan SDM dan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).

Dalam pertemuan tingkat tinggi di Tokyo, disepakati bahwa Jepang akan mendukung pengembangan SDM AI di Indonesia sebagai bagian dari strategi jangka panjang kedua negara. “Ini bukan bantuan biasa. Ini investasi masa depan. Jepang ingin membangun ekosistem ekonomi bersama Indonesia,” kata Zenzia.

Pendekatan baru ini dikenal sebagai “co-creation”, yakni kemitraan setara antara dua negara. Jepang menyediakan teknologi dan pembiayaan, sementara Indonesia menawarkan talenta muda, pasar besar, dan data.

AI Jadi Tulang Punggung Ekonomi Baru

Dalam skema ODA terbaru, AI ditempatkan sebagai sektor kunci yang menopang berbagai bidang strategis lain, mulai dari mitigasi bencana, energi, hingga industri.

Indonesia sendiri tengah menyiapkan strategi nasional AI untuk mendukung target menjadi negara maju pada 2045. Fokusnya meliputi pengembangan SDM, penarikan investasi asing seperti data center dan R&D, serta digitalisasi layanan publik.

“Kalau dulu infrastruktur fisik jadi prioritas, sekarang infrastruktur digital dan SDM yang menjadi kunci,” kata Zenzia.

Sinyal Kepercayaan

Kunjungan Prabowo menghasilkan 11 nota kesepahaman (MoU) senilai total 23,63 miliar dolar AS atau sekitar Rp401,71 triliun yang diumumkan dalam Forum Bisnis Indonesia–Jepang di Tokyo.

Kerja sama tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari hilirisasi energi bersih, pengembangan gas dan panas bumi, ekosistem semikonduktor dan AI, hingga penguatan sistem keuangan dan investasi.

Bagi Zenzia, nilai tersebut bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat kepercayaan Jepang terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Ini menunjukkan Jepang tidak keluar dari Indonesia, justru memperdalam keterlibatan dengan pendekatan baru yang lebih strategis,” ujarnya.

Kunjungan ini juga dinilai tepat karena memanfaatkan momentum kebijakan “China Plus One” yang tengah dijalankan perusahaan Jepang. Banyak perusahaan Jepang mulai mendiversifikasi basis produksi mereka keluar dari Tiongkok.

Indonesia dipandang sebagai kandidat kuat karena stabilitas politik, pasar besar, dan kekayaan sumber daya alam, terutama mineral kritis seperti nikel.

“Ini peluang besar bagi Indonesia untuk naik kelas dalam rantai pasok global,” kata Zenzia.

Lebih jauh, Zenzia menilai kunjungan ini tidak semata berdimensi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek keamanan strategis kawasan.

Kerja sama di bidang maritim, jalur pelayaran, dan stabilitas kawasan menjadi bagian penting dari hubungan Indonesia–Jepang, terutama di tengah dinamika geopolitik di Laut China Selatan.

“Ekonomi dan keamanan sekarang tidak bisa dipisahkan. Jepang adalah mitra yang relatif netral dan terpercaya dalam konteks itu,” ujarnya.

Zenzia menegaskan, langkah Prabowo ke Jepang menunjukkan upaya rebalancing atau penyeimbangan kembali arah diplomasi Indonesia. Di satu sisi, Indonesia tetap menjaga hubungan dengan Tiongkok. Namun di sisi lain, Indonesia mulai menguatkan kembali kemitraan dengan Jepang sebagai pilar penting dalam strategi jangka panjang.

“Ini bukan soal memilih satu dan meninggalkan yang lain. Ini soal menempatkan mitra sesuai karakter dan kepentingan nasional,” kata dia.

Menurutnya, jika strategi ini konsisten dijalankan, Indonesia berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Asia dengan dukungan teknologi Jepang dan skala pasar domestik.

“Ini langkah yang tepat, dan memang sudah seharusnya dilakukan sejak awal,” tutup Zenzia. (Cah/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya