Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Dari Keluarga Presiden Kennedy hingga Mueller: Mengapa Trump Terus Menghina Tokoh yang sudah Meninggal?

Haufan Hasyim Salengke
22/3/2026 20:15
Dari Keluarga Presiden Kennedy hingga Mueller: Mengapa Trump Terus Menghina Tokoh yang sudah Meninggal?
Presiden AS Donald Trump.(Saul Loeb/AFP)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu gelombang kontroversi setelah mengeluarkan pernyataan keras terkait wafatnya mantan Direktur FBI dan jaksa khusus, Robert Mueller. Melalui unggahan di media sosial, Trump secara eksplisit menyatakan kegembiraannya atas meninggalnya tokoh yang pernah memimpin penyelidikan terkait intervensi Rusia dalam Pemilu 2016 tersebut.

"Robert Mueller baru saja meninggal. Bagus, saya senang dia mati. Dia tidak bisa lagi menyakiti orang-orang yang tidak bersalah!" tulis Trump tak lama setelah kabar duka tersebut tersiar pada Sabtu (21/3) waktu setempat.

Pernyataan ini dinilai sebagai titik nadir baru dalam retorika Trump yang selama ini dikenal kerap menyerang lawan-lawan politiknya, bahkan setelah mereka tiada. Mueller, yang menghabiskan masa tugasnya menyelidiki kampanye Trump, kini menambah daftar panjang tokoh publik yang menjadi sasaran komentar miring sang mantan presiden.

Rekam Jejak Komentar Kontroversial

Namun, komentar Trump terhadap Mueller bukanlah insiden pertama. Selama bertahun-tahun, Trump berulang kali melontarkan pernyataan kontroversial dan sikap tidak peka terhadap tokoh yang telah wafat, terutama mereka yang dianggap sebagai lawan politiknya.

Catatan CNN, Minggu (22/3), menunjukkan pola ini telah dimulai sejak masa jabatan pertamanya. Pada 2017, ia diduga memberikan komentar tidak simpatik kepada janda seorang tentara yang gugur, bahwa suaminya “tahu risiko pekerjaannya.” 

Serangan serupa juga pernah dialami mendiang Senator John McCain pada 2019, di mana Trump terus melontarkan kritik meski McCain telah meninggal dunia setahun sebelumnya. Trump menyerang McCain dengan menyatakan dirinya “tidak pernah menyukai McCain,” bahkan mengulang kritik lama terhadap rekam jejak politiknya.

Pada 2019, Trump juga menyasar mendiang anggota Kongres John Dingell dengan komentar yang menyiratkan bahwa Dingell “melihat ke atas dari neraka.” Pernyataan ini memicu respons emosional dari istrinya, Debbie Dingell, yang menyebut komentar tersebut menyakitkan dan memperberat masa berkabungnya.

Serangan tanpa Henti

Tidak berhenti di situ, tokoh-tokoh besar seperti mantan Menteri Luar Negeri Colin Powell hingga anggota keluarga Kennedy juga tak luput dari serangan digital Trump sesaat setelah mereka wafat. 

Pola serupa berlanjut pada 2021 ketika mantan Menteri Luar Negeri Colin Powell meninggal dunia. Trump merilis pernyataan yang menyoroti “kesalahan besar” Powell dan menyebutnya sebagai “RINO” (Republican In Name Only).

Trump juga membagikan ulang kritik terhadap keluarga Kennedy tak lama setelah wafatnya jurnalis lingkungan Tatiana Schlossberg, cucu Presiden John F. Kennedy, setelah didiagnosis menderita kanker otak stadium akhir.

Yang terbaru dan paling ekstrem, Trump sempat mengaitkan kematian sutradara Rob Reiner dengan istilah "Trump Derangement Syndrome," sebuah ejekan sekaligus istilah yang kerap dipakai untuk menyindir kritik terhadap dirinya. Sikap Trump ini langsung menuai kritik tajam bahkan dari kalangan internal Partai Republik sendiri.

Sejumlah tokoh Partai Republik turut mengkritik pernyataan tersebut, menilai komentar Trump melampaui batas etika publik. Pernyataan terbarunya tentang Mueller pun dianggap sebagai eskalasi baru karena secara eksplisit merayakan kematian seseorang.

Sejumlah analis politik menilai bahwa perayaan eksplisit atas kematian Mueller ini menandai pergeseran dari sekadar komentar kasar menjadi ungkapan kebencian yang terang-terangan, yang berpotensi semakin memperdalam polarisasi di tengah masyarakat Amerika Serikat. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik